Lelaki sebelas Amanah

Lelaki Sebelas Amanah

bayu gawtama

Sore kemarin, hujan teramat deras hingga lepas maghrib. Janji untuk mengajak anak – anakkeluar membeli makanan kecilpun tertunda hingga malam menjelang. Hujan masih rintik – rintik ketika saya dan kedua anak saya keluar rumah. Sementara anak – anak saya ceria mencari bintang, saya terlibat obrolan mengasyikan dengan bapak pengayuh becak yang akan mengantarkan kami ke tempat membeli makanan.

“Anaknya berapa, Pak ? ” tanya bapak separuh baya itu

“Sementara dua dulu, Pak. Inipun saya kerepotan, ” jawab saya sambil menoleh, tampaklah wajah tegar yang menyimpan banyak pengalaman.

“Wah, dua sih belum repot, Pak. Anak saya sepuluh … “

Tertegun hati ini, kembali saya menoleh untuk menatap lebih lama wajah yang baru saja menerangkan bahwa anaknya sepuluh. Di benak saya, hanya terlukis angka “10″ terus menerus memutari seluas jagad benak ini. Hatipun bertanya, “Sepuluh ?” Saya bukan tidak percaya dengan kata – katanya yang tampak jujur, justru saya tidak yakin akan kesanggupan saya jika di beri amanah sebanyak itu, yang jika di tambah satu istri berarti sebelas amanah.

Mengayuh becak seharian penuh sejak pagi masih menggeliat hingga malam ketika orang seperti saya beranjak ke alam mimpi, sungguh tak pernah masuk di akal saya untuk menanggung amanah seberat itu. Malu juga saya ketika menyatakan, “Baru dua, Pak. Ini juga sudah kerepotan.” Padahal, setelah saya mengucapkan kalimat itu langsung di sambar pernyataan dari bapak pengayuh becak yang seolah – olah menganggap saya ini cengeng, lemah dan bukan lelaki. Ya, karena anaknya sepuluh, tapi tak ada satu kalimatpun darinya tentang repotnya mengurus anak.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya tergumam, seorang guru lagi saya temukan malam ini. Anak – anak tetap pada keceriaannya menghitung bintang begitu rintik berhenti, sementara saya terus di buat tertegun oleh ucapan dan petuah lelaki pengayuh becak itu. “Anak – anakitu amanah dari Gusti Allah, Pak. Dia tidak akan mengamanahkannya kepada kita kalau Dia tidak tau kemampuan kita. Dia tau persis bahwa lelaki seperti kita mampu di titipkan amanah, ” kakinya memang mengayuh becak, tapi lidahnya tak berhenti bertutur indah.

“Malu rasanya kalau kita mengeluh di titipkan amanah ini, wong Gusti Allah pun tau kemampuan kita toh … “

Ya, malu juga saya terhadap Bapak. Anehnya beraninya saya bertanya soal rejeki, “Setiap amanah itu memang ada imbalannya, Pak. Lha .. seperti bapak menumpang di becak saya ini. Bagi saya, bapak dan anak – anak ini adalah amanah saya selama masih diatas becak saya. Tanggung jawab saya adalah mengantarkan bapak ke tempat tujuan, soal saya harus kehujanan dan besoknya sakit, itu bagian dari risiko saya menanggung amanah. Imbalannya, ya setelah bapak turun pasti ngasih uang toh ke saya ?”

Lama saya merenungi kalimatnya, serasa tidak yakin kalimat itu keluar dari bapak tua pengayuh becak. Saya seperti baru saja di tampar – tampar yang menyadarkan diri bahwa ALLAH tak pernah berdiam diri untuk setiap amanah dan tanggung jawab kemanusiaan yang kita jalani sebaik – baiknya, sesuai dengan anjuran Nya.

Sampailah saya di rumah, entah seberapa banyak anak – anak saya menghitung jumlah bintang yang sebenarnya hanya terlihat sedikititu karena baru saja turun hujan. Sama seperti saya yang tak tau harus membayar berapa kepada bapak pengayuh becak itu untuk pelajarannya malam ini.

… WE WILL NOT GO DOWN IN GAZA TONIGHT …

Michael Heart

Michael Heart

WE WILL NOT GO DOWN (Song For GAZA)
(Composed & Performed by Michael Heart)
(Copyright 2009)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight

Michael Heart

… Belajar dari seekor kura – kura …

RUMAH
(http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/rumah.htm)

turtle-too

Seekor kura-kura tampak tenang ketika merayap di antara kerumunan penghuni hutan lain. Pelan tapi pasti, ia menggerakkan keempat tapak kakinya yang melangkah sangat lamban: “Plak…plak…plak…!”

Tingkah kura-kura itu pun mengundang reaksi hewan lain. Ada yang mencibir, tertawa, dan mengejek. “Hei, kura-kura! Kamu jalan apa tidur!” ucap kelinci yang terlebih dulu berkomentar miring. Spontan, yang lain pun tertawa riuh.

“Hei, kura-kura!” suara tupai ikut berkomentar. “Kalau jalan jangan bawa-bawa rumah. Berat tahu!” Sontak, hampir tak satu pun hewan yang tak terbahak. “Ha..ha..ha..ha! Dasar kura-kura lamban!” komentar hewan-hewan lain kian marak.

Namun, yang diejek tetap saja tenang. Kaki-kakinya terus melangkah mantap. Sesekali, kura-kura menoleh ke kiri dan kanan menyambangi wajah rekan-rekannya sesama penghuni hutan. Ia pun tersenyum. “Apa kabar rekan-rekan?” ucap si kura-kura ramah.

“Teman, tidakkah sebaiknya kau simpan rumahmu selagi kamu jalan. Kamu jadi begitu lambat,” ucap kancil lebih sopan. Ucapan kancil itulah yang akhirnya menghentikan langkah kura-kura. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu.

“Tak mungkin aku melepas rumahku,” suara kura-kura begitu tenang. “Inilah jatidiriku. Melepas rumah, berarti melepas jatidiri. Inilah aku. Aku akan tetap bangga sebagai kura-kura, di mana pun dan kapan pun!” jelas si kura-kura begitu percaya diri.
**

Menangkap makna hidup sebagai sebuah pertarungan, memberikan sebuah kesimpulan bahwa merasa tanpa musuh pun kita sebenarnya sedang bertarung. Karena musuh dalam hidup bisa berbentuk apa pun: godaan nafsu, bisikan setan, dan berbagai stigma negatif. Inilah pertarungan yang merongrong keaslian jatidiri: sebagai muslim, aktivis, dan dai.

Pertarungan tanpa kekerasan ini bisa berakibat fatal dibanding terbunuh sekali pun. Karena orang-orang yang kalah dalam pertarungan jatidiri bisa lebih dulu mati sebelum benar-benar mati. Ia menjadi mayat-mayat yang berjalan.

Bagian terhebat dari pertarungan jatidiri ini adalah orang tidak merasa kalah ketika sebenarnya ia sudah mati: mati keberanian, mati kepekaan, mati spiritual, mati kebijaksanaan, dan mati identitas.

Karena itu, tidak heran jika kura-kura begitu gigih mempertahankan rumah yang membebaninya sepanjang hidup. Walaupun karena itu, ia tampak lamban. Walaupun ia diserang ejekan. Kura-kura punya satu prinsip yang terus ia perjuangkan: inilah aku! Isyhaduu biannaa muslimiin. (mnuh)


… dari seorang teman di FLP …

Bunda Mendukungmu, Anakku

Tulisan berikut berdasarkan wawancara Sinyo dengan temen yang berprofesi sebagai wartawan, karena Sinyo sedih mendegar kisahnya maka saya abadikan berikut ini:

Mempunyai anak yang sehat, kuat, cerdas, tangkas dan normal adalah dambaan setiap insan di dunia ini. Bahkan saat dia seorang gay atau lesbian juga tetap menginginkan kehadiran sang buah hati. Begitu juga dengan diriku, seorang wanita yang sudah menikah dan berprofesi sebagai wartawan. Alahamdulillah, empat tahun yang lalu putrku lahir sehat dan normal. Kuberi nama dia Syahrul Putraku Bintang, karena bagiku dia memang laksana bintang yang berkedip-kedip mewarnai mewarnai relung hatiku. Rupanya Allah memberi cobaan kepadaku dan suami melalu Syahrul, sejak umur 2 bulan berbagai penyakit mendera tubuhnya yang mungil.

Tiga pekan sebelum Syahrul lahir ke alam ini, aku kecelakaan. Selama dirawat di rumah sakit kuketahui dari dokter bahwa kemungkinan besar putra dalam kandunganku akan cacat. Ya Allah, kuatkan diriku untuk tidak meneteskan air mata namun buliran-buliran lembut tetap saja mengalir dari pelupuk mataku. Rasa bersalah menghinggapi namun kusadarkan diriku bahwa masih ada Allah Yang Maha Kuasa, praduga dokter hanyalah perkiraan maka kuuntai doa agar putraku baik-baik saja.

Hari yang aku nanti akhirnya tiba jua, Alhamdulillah Sayhrul terlahir normal. Rasa syukurku tiada habisnya memandangi seorang laki-laki mungil yang begitu lembut. Rasa sakit akibat bedah cesar masih terasa, akan tetap tidak sesakit hatiku saat dua pekan kemudian dokter menemukan bahwa Syahrul mengalami pembengkokan tulang belakang yang menyebabkan disfungsi penyangga badan itu. Kemungkinan besar diakibatkan oleh kecelakaan yang kualami sebelumnya.

Pembengkokan itu tak hanya mempengaruhi bentuk badan putraku namun juga menjalar kepada kurangnya produksi kalsium serta darah merah. Suhu tubuhnya sangat mudah mencapai 42 derajat disertai diare. Ya Allah jika saja aku dapat menggantikan sakitnya, andai saja hamba ini dapat mengambil setengah saja dari nyeri yang dideritanya. Tidak hanya sehari dua hari Syahrul terkapar tak berdaya di rumah sakit, 17 bulan aku dan suami bergantian menungguinya di rumah sakit. Dokter, suster sampai tukang bersih lantai sudah seperti saudara sendiri karena terlalu lamanya Syahrul di sana.

Umur 20 bulan tulang belakangnya mulai mengalami perbaikan dan sudah lurus kembali, hampir dua tahun kami hidup bersama di rumah sakit. Therapy harus dijalani Syahrul kecilku, hatiku sedikit lega walau seluruh raga terasa tersiksa. Allah Maha Suci, cobaan didatangkan kembali untuk menguji kami semua, belum lama menjalani therapy Bintangku terkena radang paru-paru basah. Ya Allah, disaat hati sudah mulai kembali ceria, Kau hadirkan kembali hadangan yang menjulang. Aku tetap bertahan, bukan untuk hanya diriku namun yang terpenting mendampingi putraku.

Waktu berjalan cepat, Syahrul mulai sehat dan dapat kembali normal. Sampai umur 4 tahun buah hatiku belum dapat berjalan, cobaan datang kembali dengan adanya pembengkakan hati. Namun kali ini semua itu sudah tidak menjadikanku sakit, luka di hati ini telah mengeras dan membatu. Diriku sadar bahwa kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi si masa depan, hari ini kuperjuangkan untuk tetap membimbing Syahrul di jalan Allah.

Saat semua playgroup menolak Syahrul (Ya Allah, semoga mereka benar-benar tidak sanggup bukan karena menjahui ketidakmampuan fisik anakku), aku berusaha mendirikan sendiri sebuah sekolah untuk pendidikan anak usia dini. Bintangku harus belajar bersosialisai, mengetahui bahwa di luar sana banyak orang berjuang keras untuk dapat berbuat lebih baik. Saat para guru kuwalahan dengan celoteh-celoteh uniknya atau kerepotan dengan permintaan aneh darinya telponku selalu berdering.

“Bunda masak Ayun (Syahrul) suruh membuat kereta api dari balok kayu, bukankah kereta api harus ada rel-nya, besinya, lampunya?”

“Bu guru bilang, siapa punya adhe? Khan Bunda saja mengatakan kalau satu Ayun (Syahrul) sudah bikin pusing. Apalagi punya adhe banyak ya?”

“Bunda salah, habis Alif itu bukan Baa tapi Lam, itu si Nagabonar bilang begitu”

Ya Allah, mungkin saja apabila dia dalam keadaan normal akan semakin banyak hal yang akan ditanyakan dan diprotes. Aku kadang hanya tersenyum mengusap kepalanya atau menjelaskan semampuku sambil kadang kucubit pipinya karena gemas.

Nak.mungkin Bunda belum dapat memberikan yang terbaik bagimu, tapi percayalah selama jiwa ini masih melekat dalam raga walau harus meneteskan darah Bunda akan selalu mendukungmu untuk selalu maju. Jangan khawatir dengan segala hal sakit yang kau derita, itu hanyalah obat yang akan mengguggurkan dosa-dosamu jika engkau ikhlas serta menjadikannya sebagai pengingat bahwa dunia ini hanya fana, insyaa Allah, enkau akan selalu dalam ridho-Nya. Amiin. Bintangku..selamat malam Nak.


Sinyo berdoa, buat Dhe Syahrul dan Bundanya, shabar ya

Salam Sinyo

… Melodi Cinta Anak Jalanan …

Melodi Cinta Anak Jalanan

Penulis : Farhan Muhammad Arief

——-
KotaSantri.com : Malam ini kembali menjadi malam yang spesial buatku. Linangan air mata yang sudah lama tidak bercucuran, malam ini bagaikan aliran lava gunung merapi yang sedang berstatus siaga.
Ya, berat rasanya, sesak dada ini melihatnya.

Gerimis menyertai perjalanan di dalam bis kota. Penuh sesak malam itu terasa, penumpang saling berjubel, karena malam ini adalah penghujung pekan pertama di bulan Mei. Seperti pekan-pekan sebelumnya, di hari Jum’at malam adalah puncak arus lalu lintas di kota Metropolitan ini.

Berbekal sisa tenaga, aku masih menyisakan satu hari kerja untuk menyelesaikan kewajiban sebagai karyawan swasta, kerja malam. Berangkat dari pintu tol Jatibening menuju Karawang, tepat setelah Adzan Isya berkumandang.

Bukan aktifitasku yang menjadikanku berlinangan air mata. Namunlentiknya jari kecil si bocah ingusan yang masih berumur 3 tahunan itu yang membuat dadaku sesak menahan ketidaktegaan. Mulutnya mungil, tatap wajahnya tetap ceria, meskipun malam itu sudah terlihat mengantuk.

Sambil mengiringi Ibunya menyanyi di dalam bis antar kota, si kecil membagikan amplop, dengan harapan para penumpang masih mau menyisihkan sisa-sisa recehnya di hari ini. Tetapi tepat di sampingku, ada seorang penumpang yang menolak mentah-mentah uluran si kecil, meskipun sekedar menerima pembagian amplopnya saja.

“Kenapa dia tidak terima saja ya?” gumamku dalam hati, “Toh meskipun pada akhirnya dikembalikan dalam kondisi kosong.” Sifat dan karakter manusia di Jakarta ini memang sudah bermacam-macam.

Aku berusaha merogoh kantongku. Melihat si kecil yang sudah ngantuk berat, hatiku tidak kuasa. Aku ambil lima ribuan, dengan harapan, besoksi kecil bisa dibelikan oleh ibunya makanan kesukaannya, meskipun hanya sekedar permen murahan.

Setelah aktifitas “meminta-minta” selesai, si kecil membaringkan tubuhnya di pangkuan Ibunda tercinta, tepat di depan pintu masuk bis antar kota. Oh, semakin tidak tega rasanya, dada semakin bergemuruh, butir-butiran kecil keluar dari mataku.

Sebenarnya aku malu pada sekelilingku, masak lelaki dewasa sepertiku menangis di dalam bis antar kota tanpa sebab yang jelas. Kuusap dengan tanganku, kulanjutkan menatap si kecil yang sudah sempoyongan tidak kuat menahan kepalanya yang ngantuk berat.

Aku jadi teringat anak-anakku yang sudah nyenyak di pelukan ibunya di rumah. Si kecil mulai berceloteh memohon pada ibunya untuk dibelikan sebungkus kacang goreng yang kebetulan ada penjual kacang goreng asongan di depannya, ikut di dalam bis kota.

Dengan nada cukup lembut, pedagang kacang memberikan sebungkus kepada si kecil. “Riangnya anak kecil itu,” gumamku. Semoga hatinya tetap riang meskipun malam ini dia jauh dari permainan di rumah, jauh dari buaian orangtua, dan jauh dari empuknya tempat tidur orang-orang kaya.

Aku siapkan uang seribuan lagi, dengan harapan, ketika turun bis nanti, akan aku selipkan di kantong si kecil sambil berbisik, “Buat jajan besok ya, dik.” Tapi apa hendak dikata, ketika aku mulai beranjak turun,
si kecil menjauh dariku. Ya Allah, perasaanku mulai kalut, ingin rasanya menghampirinya, tapi tiada daya, karena kondisi bis yang tidak memungkinkan saat itu.

Aku turun dan berganti kendaraan tradisional khas Karawang, ojeg. Di atas boncengan motor yang basah karena guyuran gerimis, aku mulai memikirkan kembali si Kecil. Oh, air mataku tumpah, aku merasa bebas menangis karena tidak ada orang yang melihatku. Aku tak tahan, ingin rasanya memeluk dan menggendong si kecil di pangkuanku. Sambil kunyanyikan nasyid-nasyid indah agar dia nyaman tertidur denganku.

Oh, kapan lagi aku bisa bertemu denganmu, dik? Semoga syurga Allah SWT akan mempertemukan kita kelak. Janganlah berputus asa akan nikmat Allah, dik. Aku yakin, Allah SWT mempunyaiskenario yang indah buatmu kelak.

Ah, aku jadi bermimpi untuk menjadi pemimpin negeri ini. Mimpiku semakin “gila”, ketika angan itu berkata, “Akan kupersembahkan harta dan jiwaku untukmu anak-anak orang miskin, kupertaruhkan jabatanku untukmu si yatim, karena sesungguhnya Allah itu dekat dengan orang-orang yang
mengusap kepala anak yatim.”

Berapa ribu anak-anak sepertimu di negeriku yang Muslim ini? Siapa yang bertanggung jawab atas nasib mereka. Ah, ini hanya emosiku belaka, persetan dengan mereka yang ada di atas sana, kita coba gali sendiri potensi untuk si kecil di sekeliling kita. Bantu semampu kita.

———— ——— –
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

… Gaza oh .. Gaza …

Episode Duka Dari Jalur Ghaza …

Posted by: “Rubina zalfa”

Episode Duka Dari Jalur Ghaza …

Lima tahun, bukan waktu yang sebentar bagi pasangan suami istri Naser dan Eman, untuk mendapatkan seorang buah hati. Betapa berbahagianya mereka, setelah penantian yang panjang, lima bulan lalu akhirnya Allah menganugerahkan seorang bayi laki-laki yang lucu, yang mereka beri nama Mohammad.

“Cepatlah besar anakku sayang,” bisik sang ayah, Naser di telinga putera tercintanya. Kemudian, ia mencium pipi bayinya yang bulat dan berona kemerah-kemerahan.



Naser menatap istrinya dan berkata dengan perasaan bahagia,”Bayi kita akan tumbuh besar, main petak umpet seperti anak-anak lainnya, dan ia nanti akan menikah dengan perempuan yang paling cantik di seluruh Palestina ….”

Sang istri tersenyum. Dipandanginya wajah Mohammad yang selalu nampak tersenyum meski sedang tertidur. “Kami akan selalu menyayangimu, puteraku. Kami akan belikan baju-baju dan mainan-mainan yang bagus untukmu,” bisiknya sambil mengelus wajah Mohammad kecil sedang tidur nyenyak.

Tetapi ….

Mohammad tidak akan pernah bermain petak umpet. Mohammad tidak akan pernah menikah dengan gadis yang paling cantik di Palestina. Karena Mohammad kini telah tiada. Ia syahid dalam usia masih sangat muda, akibat serangan roket tentara Zionis Israel ke Jalur Ghaza pada Rabu, 27 Februari lalu. Mohammad gugur dalam buaiannya, bersama 110 warga sipil Ghaza lainnya akibat serangan brutal tanpa ampun itu.

Sekarang …

Cuma kenangan manis yang tertinggal di hati kedua ayah ibu Mohammad. Harapan dan rencana-rencana yang telah mereka susun untuk puteranya, lenyap seketika akibat kebiadaban Zionis Israel.

“Penjahat-penjahat itu telah membunuh puteraku,” kecam Naser sambil berurai air mata.

Masih segar dalam ingatannya ketika ia berusaha menyelamatkan puteranya. “Saya berlari seperti orang gila untuk melihat Mohammad yang sedang terlelap dalam buaiannya. Tapi dia sudah tidak bergerak lagi …”

“Tubuhnya berlumuran darah. Saya menggendongnya dan melarikannya ke rumah sakit. Terlambat … Mohammad sudah meninggal. Tentara-tentara Israel laknat itu telah membunuh seorang bayi yang tak berdaya …,” Tangis Naser pun pecah.


“Mengapa mereka membunuh bayi saya? Mengapa mereka membunuh kebahagiaan saya?” tanya Mohammad dengan suara tercekat. Pertanyaan-pertanya an yang takkan pernah terjawab selama kaum Zionis Israel menjajah dan menindas bangsa Palestina.

Sementara sang ibu, masih syok mendapati kenyataan puteranya telah tiada. Ia tak mampu berkata-kata. Cuma linangan airmata yang terus membasah di kedua pelupuk matanya yang sudah bengkak karena menangis.

Ibu Eman, nenek Mohammad berusaha menghiburnya. Meski ia sendiri mengutuk serangan Zionis Israel yang telah membunuh cucu yang telah dinanti-nantinya. Ia mengecam sikap dunia yang diam melihat tentara-tentara Zionis memuntahkan roket-roketnya yang membunuh anak-anak serta bayi-bayi Palestina

“Persoalannya mungkin jadi lain kalau Mohammad adalah orang Israel dan bukan orang Palestina,” tukas sang nenek.
****

http://lenakei. multiply. com

rubina_zalfa@yahoo.com rubina_zalfa

… Aku malu, Ibu …

Sungguh, Aku Malu

Penulis : Catur Catriks
KotaSantri.com :

Aku dilahirkan di tempat yang jauh dari keramaian, dari keluarga petani yang sederhana. Tapi
aku sangat beruntung, orangtuaku mengedepankan pendidikan anak-anaknya,walau ibuku tidak tamat dari SR. Sedang ayahku memang pernah sekolah, tapi hanya beberapa hari saja. Ia tidak bisa membaca.

Dalam masyarakat, orangtuaku dipandang bodoh. Tapi pada akhirnya, mereka kagum oleh kegigihan orangtuaku dalam menyekolahkan anak-anaknya hingga selesai. Banyak pengorbanan yang
mereka lakukan untuk anak-anaknya. Mereka selalu mendidikku, membiayaiku, membekaliku, dan mendukungku untuk terus belajar dan belajar.

Pada saat aku mulai kuliah di luar kota, ibu mengiringiku dengan sebuahdo’a, bismillah. Bahkan pada suatu malam, pada saat keningku sedikit berkerut, aku melihat ibuku yang terbangun tengah malam dan
bertahajud, berdo’a agar anak-anaknya diberi kemudahan jalan.

Kini, aku telah bekerja dan jauh darimu. Rindu tentu senantiasa datang. Tapi terkadang kesibukan menyebabkan sedikit lupa untuk sekedar menelpon dan menanyakan kabar. Sampai suatu ketika, aku berhasil memenuhi sebuah permintaan ibu. Lalu, ibu mengatakan lewat telpon,
“Terima kasih, ya!”

Tenggorokanku tercekat, dan tiba-tiba aku mengatakan serentetan kata yang aku sendiri tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Aku pikir, pada saat itu lidahku terpeleset-pleset, lalu diam.

Ibu, tiba-tiba ananda merasa malu.

Untuk semua perlindungan kasih yang engkau berikan, aku tak pernah mengucapkan terima kasih. Untuk semua do’a yang kau panjatkan untuk kemudahan jalanku, aku tak pernah mengucapkan terima kasih. Untuk semua usahamu agar kuliahku selesai, juga aku tak pernah mengucapkan kata itu kepadamu.

Untuk itu ibu, akan ananda maknai semua itu semampu ananda. Dan bahwa kemarin yang aku lakukan, adalah sebuah kewajiban anak kepada orang tuanya walau mungkin itu hanya seujung kuku.
Aku tak akan mampu membalas sedikit apalagi banyak.

Maka itu ibu, lain kali, jangan ucapkan terima kasih lagi. Ananda malu di hadapan Allah SWT. Kecuali jika ibu ingin mengajariku untuk bisa mengucapkan kata, terima kasih.

———— —
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Juli 2017
    S S R K J S M
    « Mei    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 181,333 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..