… KEHIDUPAN : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah ..

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an.
An Naml [semut], Al ‘Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

antSemut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti.
Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun.
Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar
sehingga ia berusaha – dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih
besar dari tubuhnya.

spiderUraian Al-Qur’an tentang laba-laba; sarangnya adalah tempat yang paling
rapuh [ Al ‘Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang
berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi
oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling
memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an – “atas perintah
Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” [ An Nahl;
16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar
efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga.
Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yg sangat
manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang
tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika
diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.honeybee

Sikap hidup kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini.
Ada yang berbudaya ‘semut’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk
ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ‘semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’.
Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.
Entah berapa banyak juga tipe ‘laba-laba’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya
berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa”
Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘lebah’.
Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan :
“Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat
dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya”

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

[ Dari Lentera Hati – M. Quraish Shihab]

… Bila Ibu Boleh Memilih …

happy_cuddle_with_mother

Anakku…
Bila ibu boleh memilih “Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu?”, Maka ibu akan memilih mengandungmu!!!
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah,
Sembilan bulan nak…Engkau hidup di perut ibu, Engkau ikut kemanapun ibu pergi, Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan,
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata.
pregnant
Anakku…
Bila ibu boleh memilih “untuk ibu berjuang melahirkanmu”, Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu!!!
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu,

Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga,
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan,
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua, Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun, Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia.

Saat itulah…saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu.

Anakku…
Bila ibu boleh memilih “apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu?”,
Maka ibu memilih menyusuimu, Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga,

Merabreast-feedingsakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan.

 

 

Anakku…
Bila ibu boleh memilih “duduk berlama-lama di ruang rapat Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle?”

Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu,

Tetapi anakku…

Hidup memang pilihan…

Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana,
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…

Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

mom

 

… Segenggam Garam …

man crying

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?” Sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
gelas
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.”Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya.Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke telaga di dekat tempat mereka.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke telaga.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke telaga, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air telaga itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir telaga.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air telaga, dan membawanya kemulutnya lalu meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir ditenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

Tentu saja, telaga ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” tanya sang guru

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.

Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air telaga sampai puas.
telaga
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu menjadi seluas telaga agar kau bisa menikmati hidup”

 

 

 

 

… Marhaban ya Ramadhan …

Marhaban ya Ramadhan

marhaban-ya-ramadhan

Di keheningan dini hari ku duduk bersimpuh,

menerawang ke hari – hari yang telah terlewati

Subhanallah, Ramadhan akan menyapa

Kutengadahkan wajahku

Mencoba mencari diri MU

Tuk Teguhkan hatiku

Menyambut bulan yang teduh milikMu

Bulan yang selalu di tunggu oleh hamba – hamba yang mencintaiMu

Yang diantara hadirnya di tahun lalu hingga hari ini

Telah banyak dosa dan noda yang telah ku ukir di dalamnya

Sengaja ataupun tidak

marhaban

Syahrur Ramadhan ….., Syahrul Maghfirah…, Syahrul Qur’an….

Betapa bahagia hatiku wahai Rabbi,

masih KAU ijinkan aku menikmati bulan suciMu

Masih KAU ijinkan aku mengalunkan senandung tobatku

Serasa lebih dari bertemu kekasih hati

Lantaran bulan ini terlalu berarti

Kedatanganmu membawa berjuta harapan wahai Ramadhan

Oooo…. Malam seribu bulan, kurindukan engkau dari sekarang

Ketika langit menggenapkan semua perjanjiannya

Menerima amanat hingga pagi harinya

Bagi siapa saja yang bersedia mendaki di jalan ini

Shaum bukanlah untuk mulut dan hati

Namun semata bagi ILLAHI RABBI

Sebab hidup bukanlah yang ada disini,

Yang ada kini takkan abadi

Disisi Mu kelak, segala jerih payah, luka derita, darah dan air mata

Dalam setiap langkah perjuangan ini kan KAU ganti

Melalui Ramadhan MU ini,

Bantu kami ya RABBI untuk mendaki, meraih titik cahaya tertinggi

Didik kami, hamba – hambaMu yang lemah ini ILLAHI agar kami lebih tau diri

Membuang segala kesombongan diri, menepis kegelisahan hati

Basuhlah segala iri, dengki, ghibah, amarah, dusta, putus asa, malas, serakah, bimbang, sedih, segala…. Segalanya yang menghalangi turunnya rahmatMU pada kami

Cucilah…cucilah hingga bersih, di 30 harimu yang penuh barokah ini

Beri kami kekuatan wahai PEMILIK RAMADHAN

Agar kami mampu bertahan,

Mengisi malam – malam kami dengan tarawih

dan menghiasi siang dengan tilawah Qur’an

Memanjang kan lantunan taubat kami di setiap helaan nafas.

UT0122244

Sungguh, aku tak tau….

Akankah aku dapat menggapai MU, sampai kah aku padaMU, wahai ILLAHI RABBI ?

Akankah KAU terima semua daya upaya ku yang dhoif, fakir dan sangat mengharapkan AMPUNANMU ini ?

Wahai PEMILIK RAMADHAN

Sekali lagi bantu kami mengenyahkan PARA PEMBISIK terlaknat !

Kalau mereka bertekad untuk menggoda, dengan berpegang padaMU

aku bertekad untuk melawan

Mereka bersumpah untuk tidak berhenti,

Ku kan bermunajat tiada henti kepadaMU pemilik diri

Agar kami dapat memenangi peperangan ini

setan

Wahai Ramadhan….SELAMAT DATANG

Kusambut datangmu dengan semangat untuk MENANG !

Ku tunggu datangmu dengan semangat berkasih sayang

Ku tunggu datangmu dengan penuh rindu dan pengharapan

MARHABAN…. MARHABAN… YA SYAHRU RAMADHAN….

Syahrul Maghfirah….Syahrul Qur’an…. Syahrul Ibadah …. Syahrul Mahabbah…

camels

… Guru – Guru Tauhidku …

GURU – GURU TAUHIDKU

“ Mama, nanti aku mau kaya mama, jadi dokter juga, “ begitu celotehku saat aku kecil dulu.

“ Kenapa Manda mau jadi dokter ? “ tanya mamaku menanggapi celotehku

“ Abis hebat, bisa nyembuhin orang sakit, “ jawabku polos

Aku memang sangat kagum pada kedua orang tuaku, buatku mereka berdua orang hebat yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dan hebatnya lagi keduanya jarang sakit.

“ Manda sayang, mama sama papa nggak bisa menyembuhkan mereka yang sakit. Yang menyembuhkan mereka adalah ALLAH, “ mama menjelaskan panjang lebar tentang kekagumanku, “Mama dan Papa hanya perantara ALLAH untuk membuat mereka menjadi sehat kembali dari sakitnya. Tanpa ijin ALLAH mama dan papa tidak bisa berbuat apa – apa “

“ Iya, tapi manda tetep mau jadi dokter kaya mama sama papa. Manda mau kaya mama, bisa liat adik bayi tiap hari. “

Mama memang dokter kandungan, aku tau karena mama sering mengajakku ke RS bila aku sedang libur. Di mataku pekerjaan mama sangatlah menyenangkan, setiap hari ada saja bayi – bayi lucu yang lahir dan mama lah yang membantu persalinan ibunya.

Begitulah Mama dan Papa menerangkan padaku tentang pekerjaannya yang di mataku sangat mengagumkan. Namun kini aku menyadari satu hal, dalam segala keterangannya, mama dan papa selalu saja menyampaikan semuanya di sertai penanaman tauhid untuk putri kecilnya. Sejak aku kecil, mama dan papa selalu saja mengenalkan ALLAH dan Rasulnya dengan sangat baik. Mungkin karena kami tinggal di luar negeri, dimana Islam adalah minoritas. Namun yang aku tau mama dan papa mengajarkan aku mencintai ALLAH dan RasulNya sejak aku masih kecil.

Kata Nenek (semoga ALLAH memberimu tempat terindah disisiNya, amiin. Luv U Nek, manda kangen …) dulu waktu aku masih di perut mama, setiap malam sebelum tidur, papa selalu mengaji untuk manda. Setelah lahir, papa tetap melakukan hal yang sama setiap hari sampai aku bisa di ajak sholat. Sementara mama selalu membaca doa sebelum tidur dan doa untuk orang tua saat aku masih bayi sampai aku batita.Sejak manda bisa diajak sholat mama dan papa mulai mengajarkan doa – doa pendek yang mudah ku hafalkan. Aku mulai diajak sholat saat usiaku masih 4 tahun.

Yang kuingat, dalam setiap kesempatan mama selalu mengajarkan aku berdialog dengan ALLAH, seperti misalnya saat bangun tidur, mama selalu mengajarkan aku untuk mengucapkan, “ terima kasih ya ALLAH, manda hari ini bangun dengan sehat. “ Seolah – olah ALLAH ada di dekatku. Atau dalam kesempatan lain, saat aku sakit, mama selalu mengajarkan aku untuk minta pada ALLAH kesembuhan, “ Ya ALLAH manda mau sembuh lagi …” Tidak dengan doa yang masih sulit di ingat, tapi cukup dengan percakapan sehari – hari yang biasa ku lakukan.

Berbeda dengan Papa yang mengenalkan ALLAH dengan cara yang lain. Papa selalu mengenalkan ALLAH melalui ciptaanNya. Bagaimana aku harus mencintai makhluk hidup lainnya di sekitarku dan berbagi kasih sayang dengan mereka.

“ Ayo tanamannya disiramin dulu yuk, manda sudah makan, sekarang giliran bunganya yang makan, “ kata papa sambil menggandengku kehalaman untuk menyirami bunga – bunga peliharaan nenek yang cantik – cantik. Atau suatu saat aku melihat seekor kupu – kupu dan ingin memegangnya, papa bilang kupu – kupu juga seperti manda, nggak mau di pegangin sehingga nggak bisa bergerak bebas. Kalau manda suka manda cukup memandanginya saja ketika ia terbang di halaman nenek.

Kali lain, papa mengajarkan aku banyak hal ketika bermain di pantai, menceritakan bagaimana ALLAH sangat kaya, Ia memiliki pantai yang indah dan luar biasa luas. Siapapun boleh datang dan bermain disana, siapapun boleh menikmati kecantikannya.

“ALLAH tidak pernah pelit pada makhlukNya, kalau ALLAH aja nggak pelit, manda juga harus begitu, ya. “

Karna ALLAH punya segalaNya, tapi tidak pernah menolak ketika hambaNya meminta sesuatu.

Nenek dan Kakek juga selalu mengajarkan hal yang sama padaku. Aku tidak pernah dimarahi dengan kata – kata yang kasar. Hukuman yang kuterima dari kenakalanku biasanya berupa hukuman tidak boleh main keluar rumah, tidak di ijinkan makan kue bikinan nenek (sekalipun beliau tetap menyisakannya untuk ku saat hukumanku berakhir nanti. )

Setiap hari aku memang lebih sering bersama nenek dan kakek. Papa dan Mama sibuk dengan pekerjaannya. Nenek tidak pernah lupa mengajakku berdialog dengan ALLAH setiap saatnya, aku harus mengucapkan salam ketika masuk rumah, dan ini lalu di tiru oleh teman – teman bule ku yang jadi sangat lucu ketika mereka yang mengucapkan.

“ Assalam itu nama ALLAH, ALLAH suka disapa oleh manda, jadi sering – seringlah mengucapkan salam ya sayang, agar ALLAH sayang pada manda.”

Kakek bilang ALLAH itu Maha Perkasa, “ Tuh, lihat ! ALLAH yang menurunkan hujan, supaya manda tidak kepanasan, dan tanaman nenek dapat makanannya. “ Siapa yang bisa menurunkan hujan kalau bukan ALLAH ?

Dan seorang pak Usman, semoga ALLAH memuliakan beliau, dimanapun beliau berada sekarang, guru ngaji manda yang menambah kekaguman manda pada ALLAH dan RASULNYA. Membuat manda semakin ingin di cintai Nya, dan mencintai Nabi Nya yang luar biasa itu. Dari beliau pula manda tergerak untuk menggunakan jilbab setiap hari setiap saat saat usia 8 tahun. Sekolah memang mengharuskan siswinya berjilbab, tapi itu langsung terlepas sesampainya di mobil, hahahaha …

“ Manda takut ALLAH nggak sayang lagi sama manda kalau manda nggak mau menutup aurat Ma, belikan manda jilbab ya ma … Manda mau berjilbab kaya mama dan nenek. “ Malam itu juga Mama menelpon tante di Jakarta untuk mengirimkan jilbab kecil untuk manda.

Pak Usman juga sering bercerita bagaimana sayangnya Nabi pada kita, bahkan beliau rela menyimpan doanya yang langsung di ijabah ALLAH sebagai simpanan, “ Rasulullah menyimpan hak doanya untuk di jadikan syafa’at bagi kita semua yang juga mencintai beliau. Manda cinta nggak sama Rasul ? “ begitu pak Usman selalu mengingatkan aku agar senantiasa mencintai ALLAH dan Rasulullah, karena keduanya juga sangat sayang pada Manda.

Beliau lah guru – guru awal kehidupanku, guru – guru yang pertama kali mengajarkan tauhid pada seorang anak kecil yang sedang belajar menapaki kehidupan. Dari beliau semua aku tau betapa ALLAH sangat mencintai kita dan memberi apapun yang kita minta tanpa meminta balasan, bahkan memberi segala sesuatu yang kita butuhkan tanpa kita minta. Mencukupinya tanpa syarat. Dan Rasulullah berjuang dengan segala cintanya untuk membuat kita hidup lebih beradab dan manusiawi, walaupun untuk itu semua yang ku tau beliau merelakan tubuh, jiwa dan hartanya demi membuat kita seperti saat ini.

Terima kasih ku yang tak terhingga untuk semua orang – orang tercintaku yang mengajarkanku mencintai ALLAH dan Rasul Nya sejak aku masih kecil, dan membuatku makin mencintainya hingga kini.

Tak ada yang setulus cinta ALLAH dan RasulNya, tak ada yang sebanding dengan CINTA Nya …

Ya Rabbi,

Muliakan beliau semua,

Jadikan beliau semua orang – orang yang KAU cintai

Seperti cinta mereka padaMu

Dan mengajarkan aku untuk mencintaiMu …

Amiin.

… Guru – Guru Tauhidku …

GURU – GURU TAUHIDKU

“ Mama, nanti aku mau kaya mama, jadi dokter juga, “ begitu celotehku saat aku kecil dulu.
“ Kenapa Manda mau jadi dokter ? “ tanya mamaku menanggapi celotehku
“ Abis hebat, bisa nyembuhin orang sakit, “ jawabku polos

Aku memang sangat kagum pada kedua orang tuaku, buatku mereka berdua orang hebat yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dan hebatnya lagi keduanya jarang sakit.

“ Manda sayang, mama sama papa nggak bisa menyembuhkan mereka yang sakit. Yang menyembuhkan mereka adalah ALLAH, “ mama menjelaskan panjang lebar tentang kekagumanku, “Mama dan Papa hanya perantara ALLAH untuk membuat mereka menjadi sehat kembali dari sakitnya. Tanpa ijin ALLAH mama dan papa tidak bisa berbuat apa – apa “

“ Iya, tapi manda tetep mau jadi dokter kaya mama sama papa. Manda mau kaya mama, bisa liat adik bayi tiap hari. “
Mama memang dokter kandungan, aku tau karena mama sering mengajakku ke RS bila aku sedang libur. Di mataku pekerjaan mama sangatlah menyenangkan, setiap hari ada saja bayi – bayi lucu yang lahir dan mama lah yang membantu persalinan ibunya.

Begitulah Mama dan Papa menerangkan padaku tentang pekerjaannya yang di mataku sangat mengagumkan. Namun kini aku menyadari satu hal, dalam segala keterangannya, mama dan papa selalu saja menyampaikan semuanya di sertai penanaman tauhid untuk putri kecilnya. Sejak aku kecil, mama dan papa selalu saja mengenalkan ALLAH dan Rasulnya dengan sangat baik. Mungkin karena kami tinggal di luar negeri, dimana Islam adalah minoritas. Namun yang aku tau mama dan papa mengajarkan aku mencintai ALLAH dan RasulNya sejak aku masih kecil.

Kata Nenek (semoga ALLAH memberimu tempat terindah disisiNya, amiin. Luv U Nek, manda kangen …) dulu waktu aku masih di perut mama, setiap malam sebelum tidur, papa selalu mengaji untuk manda. Setelah lahir, papa tetap melakukan hal yang sama setiap hari sampai aku bisa di ajak sholat. Sementara mama selalu membaca doa sebelum tidur dan doa untuk orang tua saat aku masih bayi sampai aku batita.Sejak manda bisa diajak sholat mama dan papa mulai mengajarkan doa – doa pendek yang mudah ku hafalkan. Aku mulai diajak sholat saat usiaku masih 4 tahun.

Yang kuingat, dalam setiap kesempatan mama selalu mengajarkan aku berdialog dengan ALLAH, seperti misalnya saat bangun tidur, mama selalu mengajarkan aku untuk mengucapkan, “ terima kasih ya ALLAH, manda hari ini bangun dengan sehat. “ Seolah – olah ALLAH ada di dekatku. Atau dalam kesempatan lain, saat aku sakit, mama selalu mengajarkan aku untuk minta pada ALLAH kesembuhan, “ Ya ALLAH manda mau sembuh lagi …” Tidak dengan doa yang masih sulit di ingat, tapi cukup dengan percakapan sehari – hari yang biasa ku lakukan.

Berbeda dengan Papa yang mengenalkan ALLAH dengan cara yang lain. Papa selalu mengenalkan ALLAH melalui ciptaanNya. Bagaimana aku harus mencintai makhluk hidup lainnya di sekitarku dan berbagi kasih sayang dengan mereka.
“ Ayo tanamannya disiramin dulu yuk, manda sudah makan, sekarang giliran bunganya yang makan, “ kata papa sambil menggandengku kehalaman untuk menyirami bunga – bunga peliharaan nenek yang cantik – cantik. Atau suatu saat aku melihat seekor kupu – kupu dan ingin memegangnya, papa bilang kupu – kupu juga seperti manda, nggak mau di pegangin sehingga nggak bisa bergerak bebas. Kalau manda suka manda cukup memandanginya saja ketika ia terbang di halaman nenek.

Kali lain, papa mengajarkan aku banyak hal ketika bermain di pantai, menceritakan bagaimana ALLAH sangat kaya, Ia memiliki pantai yang indah dan luar biasa luas. Siapapun boleh datang dan bermain disana, siapapun boleh menikmati kecantikannya.
“ALLAH tidak pernah pelit pada makhlukNya, kalau ALLAH aja nggak pelit, manda juga harus begitu, ya. “
Karna ALLAH punya segalaNya, tapi tidak pernah menolak ketika hambaNya meminta sesuatu.

Nenek dan Kakek juga selalu mengajarkan hal yang sama padaku. Aku tidak pernah dimarahi dengan kata – kata yang kasar. Hukuman yang kuterima dari kenakalanku biasanya berupa hukuman tidak boleh main keluar rumah, tidak di ijinkan makan kue bikinan nenek (sekalipun beliau tetap menyisakannya untuk ku saat hukumanku berakhir nanti. )

Setiap hari aku memang lebih sering bersama nenek dan kakek. Papa dan Mama sibuk dengan pekerjaannya. Nenek tidak pernah lupa mengajakku berdialog dengan ALLAH setiap saatnya, aku harus mengucapkan salam ketika masuk rumah, dan ini lalu di tiru oleh teman – teman bule ku yang jadi sangat lucu ketika mereka yang mengucapkan.
“ Assalam itu nama ALLAH, ALLAH suka disapa oleh manda, jadi sering – seringlah mengucapkan salam ya sayang, agar ALLAH sayang pada manda.”

Kakek bilang ALLAH itu Maha Perkasa, “ Tuh, lihat ! ALLAH yang menurunkan hujan, supaya manda tidak kepanasan, dan tanaman nenek dapat makanannya. “ Siapa yang bisa menurunkan hujan kalau bukan ALLAH ?

Dan seorang pak Usman, semoga ALLAH memuliakan beliau, dimanapun beliau berada sekarang, guru ngaji manda yang menambah kekaguman manda pada ALLAH dan RASULNYA. Membuat manda semakin ingin di cintai Nya, dan mencintai Nabi Nya yang luar biasa itu. Dari beliau pula manda tergerak untuk menggunakan jilbab setiap hari setiap saat saat usia 8 tahun. Sekolah memang mengharuskan siswinya berjilbab, tapi itu langsung terlepas sesampainya di mobil, hahahaha …

“ Manda takut ALLAH nggak sayang lagi sama manda kalau manda nggak mau menutup aurat Ma, belikan manda jilbab ya ma … Manda mau berjilbab kaya mama dan nenek. “ Malam itu juga Mama menelpon tante di Jakarta untuk mengirimkan jilbab kecil untuk manda.

Pak Usman juga sering bercerita bagaimana sayangnya Nabi pada kita, bahkan beliau rela menyimpan doanya yang langsung di ijabah ALLAH sebagai simpanan, “ Rasulullah menyimpan hak doanya untuk di jadikan syafa’at bagi kita semua yang juga mencintai beliau. Manda cinta nggak sama Rasul ? “ begitu pak Usman selalu mengingatkan aku agar senantiasa mencintai ALLAH dan Rasulullah, karena keduanya juga sangat sayang pada Manda.

Beliau lah guru – guru awal kehidupanku, guru – guru yang pertama kali mengajarkan tauhid pada seorang anak kecil yang sedang belajar menapaki kehidupan. Dari beliau semua aku tau betapa ALLAH sangat mencintai kita dan memberi apapun yang kita minta tanpa meminta balasan, bahkan memberi segala sesuatu yang kita butuhkan tanpa kita minta. Mencukupinya tanpa syarat. Dan Rasulullah berjuang dengan segala cintanya untuk membuat kita hidup lebih beradab dan manusiawi, walaupun untuk itu semua yang ku tau beliau merelakan tubuh, jiwa dan hartanya demi membuat kita seperti saat ini.

Terima kasih ku yang tak terhingga untuk semua orang – orang tercintaku yang mengajarkanku mencintai ALLAH dan Rasul Nya sejak aku masih kecil, dan membuatku makin mencintainya hingga kini.
Tak ada yang setulus cinta ALLAH dan RasulNya, tak ada yang sebanding dengan CINTA Nya …

Ya Rabbi,
Muliakan beliau semua,
Jadikan beliau semua orang – orang yang KAU cintai
Seperti cinta mereka padaMu
Dan mengajarkan aku untuk mencintaiMu …

Amiin.

… Kisah Cinta Seorang Anak …

Kisah Cinta Seorang Anak..

200521420-011

(ditulis oleh Cristine Wili)

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

Bagaimana komentar anda tentang kisah ini?

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye “Keluargaku, Surgaku”

http://priendah.wordpress.com/2009/06/12/kisah-cinta-seorang-anak/

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Mei 2017
    S S R K J S M
    « Mei    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 181,129 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..