… Hari ini, empat tahun yang lalu …

tsunami

Pagi – pagi buta aku sudah di jemput Om ku untuk berangkat bersamanya ke bandara Soekarno – Hatta. Ya hanya aku yang berangkat ke Aceh untuk menjemput saudara sepupuku yang belum ketahuan rimbanya itu. Ibu nya sendiri nggak di ijinin berangkat mengingat kesehatannya yang kurang baik setelah melihat tayangan tsunami di Aceh tanggal 26 Desember yang lalu. Kebayang kan bagaimana nggak shock melihat bencana sehebat itu, sementara sang anak, menantu dan cucu – cucunya berada disana. Mana jaringan komunikasi lumpuh lagi, sehingga membuat kami yang ada di luar Aceh tidak dapat mengetahui secara pasti kabar keluarga dan kerabat kami yang ada di tempat tersebut.

Jujur, aku sama sekali buta tentang Aceh. Sama sekali tidak tau apa – apa tentang daerah tersebut. Untungnya aku di temani Omku yang akan berangkat lagi keesokan harinya. Jadi sesampainya di Aceh nanti aku bersama Omku akan mulai mencari keberadaan sepupuku.

Di pesawat, lamunanku melayang pada apa yang kulihat di tv. Aku tidak mampu membayangkan kenyataan bagaimana yang akan aku hadapi sesampainya disana.

Kami tidak bisa mendarat di Blang Bintang. Bandara itu tidak dapat di pakai lagi akibat gempa. Akhirnya sampai juga kami di Polonia, Medan. Dan menuju Aceh dengan perjalanan darat. Sampai di Aceh aku dan Om ku langsung menuju alamat yang di berikan Uwa. Alhamdulillah sekalipun rumah itu tidak lagi sempurna namun masih cukup layak untuk di huni. Aku mendapati keluarga kakak sepupuku dalam keadaan baik. Namun tergurat wajah shock setelah mengalami dan melihat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Mungkin karena tempat tinggal kakak ku agak jauh ke atas, jadi sama sekali tidak mengalami efek tsunami.

Sayangnya kebahagiaan kami tidak berlangsung lama. Abang, suami dari kakakku yang asli Aceh, sedang dalam keadaan berkabung karena seluruh isi desa tempat tinggal orang tuanya bersih tersapu air. Tidak ada satupun bangunan yang tersisa di salah satu desa di Meulaboh itu. Dan saat ini Abang sedang risau tentang keberadaan ibu dan bapaknya juga seorang abang nya yang tinggal tidak jauh dari sana.

tsunami_aceh

30 Desember 2004

Om ku kembali ke jakarta membawa keluarga – keluarga yang selamat. Aku tinggal bersama kakak sepupuku sambil membantunya berkemas. Menyelamatkan yang masih tersisa untuk di bawa ke Jakarta. Siangnya aku ikut Abang menelusuri kota mencari jenazah orang tuanya. Bukan main beratnya hari ini, di tengah terik matahari dengan sengatan bau busuk yang menyengat aku membantu Abang melihat satu persatu tumpukan jenazah untuk mengenali siapa tau salah satunya adalah keluarga Abang. Rumah sakit juga tidak luput kami kunjungi.

Dengan menumpang angkutan kota kami menelusuri jalan menuju ke Meulaboh.

Sesampainya disana pemandangan menyedihkan justru menyambut kami. Kampung itu tak lagi berbentuk. Rata dengan tanah, tinggal beberapa batang pohon kelapa yang masih tegak berdiri. Aku, Abang dan seorang kerabat abang menelusuri kampung yang hancur itu. Berusaha mengais sisa – sisa keberadaan keluarga abang yang mungkin masih bisa mengantarkan kami pada titik terang untuk menemukan beliau.

Sampai sore kami terus menelusuri tempat itu sampai mata kami tertuju pada sebuah perahu terbalik. Dan Subhanallah, sungguh mata ini tak dapat mempercayai apa yang kami lihat saat itu. Sesosok tubuh yang kami kenali tergolek di bawahnya. Tubuh yang sudah tak lagi bernyawa. Namun utuh dan tidak berbau. Layaknya tidur nyenyak, ibu terbaring di bawah badan perahu yang terbalik itu. Aku tak tahan mendengar tangisan Abang yang memilukan. Namun walaupun pilu kami terhibur melihat jasadnya yang utuh dan cantik.

Maha Benar Engkau ya ALLAH, yang menjanjikan untuk menjaga jasad orang – orang solih dari sentuhan tanah dan cacing yang akan merusaknya. Kali ini aku membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri. Ibu yang semasa hidupnya sangat rajin beribadah, baik hati dan sangat dermawan ini, mendapat penjagaan ALLAH bahkan ketika kematian telah menjemputnya.

Akhirnya Abang memutuskan untuk memakamkan Ibu di tanah bekas rumahnya. Dengan meminta pertolongan kerabat dan beberapa orang disana, kami memakamkan Ibu. Bapak sampai saat ini tidak ketahuan kabarnya.

beudeuh-tsunami-aceh

Hari yang berat telah kami lalui. Paling tidak kami terhibur dengan di temukannya Ibu dan dapat memakamkannya dengan baik.

31 Desember 2004

Seorang teman Abang mengaku melihat seseorang yang mirip dengan Kakak Abang yang hilang. Namun dengan kondisi yang agak memprihatinkan di rumah sakit Cut Nyak Dien Meulaboh. Abang segera berangkat kesana bersama temannya. Aku menemani kakakku dan anak – anaknya di rumah. Ternyata benar, orang yang di maksud adalah Kakak Abang. Dengan kaki yang nyaris putus sampai lutut, abang memutuskan untuk menyewa ambulance dan membawa kakaknya ke Medan untuk di rawat intensif  disana.

Kalau di tanya apa yang di butuhkan oleh rakyat Aceh saat itu, aku bisa memastikan mereka membutuhkan air bersih dan masker. Karena air yang ada rata – rata sudah tercemar dengan mayat yang membusuk.

Tepat di penghujung tahun, jam 11 malam kami meninggalkan Aceh untuk kembali ke Jakarta. Aku dan keluarga kakak sepupuku mengawali taun diatas pesawat dengan sejuta kenangan yang tak kan terlupakan seumur hidup.

Seandainya saja aku di ijinkan untuk menjadi volunteer di Aceh, aku pasti sudah kembali kesana. Sayangnya Mama tidak pernah mengijinkan anak semata wayangnya untuk mengabdikan diri di daerah bencana tersebut.

Semoga banyak hikmah yang bisa di petik dari musibah terbesar itu. Bagi kita yang mau membaca tanda – tanda kebesaranNya. Karena dengan cara itulah ALLAH mengajak kita ‘berbicara’.

Aku tak kan pernah melupakan Aceh, pemandangan yang mengiris hati, melihat tanda – tanda kekuasaanNya disana, dan akhirnya aku belajar…

Ketika ALLAH berkehendak, tak ada yang tak mungkin bagiNya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Pos-pos Terbaru

  • Fave Category

  • My Journey

    Desember 2008
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 180,170 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..