Lelaki Sebelas Amanah

bayu gawtama

Sore kemarin, hujan teramat deras hingga lepas maghrib. Janji untuk mengajak anak – anakkeluar membeli makanan kecilpun tertunda hingga malam menjelang. Hujan masih rintik – rintik ketika saya dan kedua anak saya keluar rumah. Sementara anak – anak saya ceria mencari bintang, saya terlibat obrolan mengasyikan dengan bapak pengayuh becak yang akan mengantarkan kami ke tempat membeli makanan.

“Anaknya berapa, Pak ? ” tanya bapak separuh baya itu

“Sementara dua dulu, Pak. Inipun saya kerepotan, ” jawab saya sambil menoleh, tampaklah wajah tegar yang menyimpan banyak pengalaman.

“Wah, dua sih belum repot, Pak. Anak saya sepuluh … ”

Tertegun hati ini, kembali saya menoleh untuk menatap lebih lama wajah yang baru saja menerangkan bahwa anaknya sepuluh. Di benak saya, hanya terlukis angka “10” terus menerus memutari seluas jagad benak ini. Hatipun bertanya, “Sepuluh ?” Saya bukan tidak percaya dengan kata – katanya yang tampak jujur, justru saya tidak yakin akan kesanggupan saya jika di beri amanah sebanyak itu, yang jika di tambah satu istri berarti sebelas amanah.

Mengayuh becak seharian penuh sejak pagi masih menggeliat hingga malam ketika orang seperti saya beranjak ke alam mimpi, sungguh tak pernah masuk di akal saya untuk menanggung amanah seberat itu. Malu juga saya ketika menyatakan, “Baru dua, Pak. Ini juga sudah kerepotan.” Padahal, setelah saya mengucapkan kalimat itu langsung di sambar pernyataan dari bapak pengayuh becak yang seolah – olah menganggap saya ini cengeng, lemah dan bukan lelaki. Ya, karena anaknya sepuluh, tapi tak ada satu kalimatpun darinya tentang repotnya mengurus anak.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, saya tergumam, seorang guru lagi saya temukan malam ini. Anak – anak tetap pada keceriaannya menghitung bintang begitu rintik berhenti, sementara saya terus di buat tertegun oleh ucapan dan petuah lelaki pengayuh becak itu. “Anak – anakitu amanah dari Gusti Allah, Pak. Dia tidak akan mengamanahkannya kepada kita kalau Dia tidak tau kemampuan kita. Dia tau persis bahwa lelaki seperti kita mampu di titipkan amanah, ” kakinya memang mengayuh becak, tapi lidahnya tak berhenti bertutur indah.

“Malu rasanya kalau kita mengeluh di titipkan amanah ini, wong Gusti Allah pun tau kemampuan kita toh … ”

Ya, malu juga saya terhadap Bapak. Anehnya beraninya saya bertanya soal rejeki, “Setiap amanah itu memang ada imbalannya, Pak. Lha .. seperti bapak menumpang di becak saya ini. Bagi saya, bapak dan anak – anak ini adalah amanah saya selama masih diatas becak saya. Tanggung jawab saya adalah mengantarkan bapak ke tempat tujuan, soal saya harus kehujanan dan besoknya sakit, itu bagian dari risiko saya menanggung amanah. Imbalannya, ya setelah bapak turun pasti ngasih uang toh ke saya ?”

Lama saya merenungi kalimatnya, serasa tidak yakin kalimat itu keluar dari bapak tua pengayuh becak. Saya  seperti baru saja di tampar – tampar yang menyadarkan diri bahwa ALLAH tak pernah berdiam diri untuk setiap amanah dan tanggung jawab kemanusiaan yang kita jalani sebaik – baiknya, sesuai dengan anjuran Nya.

Sampailah saya di rumah, entah seberapa banyak anak – anak saya menghitung jumlah bintang yang sebenarnya hanya terlihat sedikititu karena baru saja turun hujan. Sama seperti saya yang tak tau harus membayar berapa kepada bapak pengayuh becak itu untuk pelajarannya malam ini.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Pos-pos Terbaru

  • Fave Category

  • My Journey

    September 2008
    S S R K J S M
    « Agu   Okt »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 180,170 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..