Kemana hati Nurani itu ?

Tadi pagi seperti biasanya aku nonton berita (karena hanya berita yang bisa di tonton dari tv kita di Indonesia, itupun sebenarnya masih juga membosankan, maklum isinya sarat dengan kepentingan tertentu aja… ). Masya ALLAH aku ikut nangis melihat seorang bocah perempuan menangis tersedu – sedu melihat rumahnya di hancurkan oleh aparat. Terbayang bagaimana perasaannya karena saat itu statusnya menjadi tidak lagi punya tempat tinggal.

Di berita yang lain dengan konteks yang sama, penggusuran PKL di sekitar Mal yang ada di Surabaya, berakhir ricuh. Bagaimana pilunya melihat seorang ibu pedagang kaki lima yang menangis histeris ketika melihat lapak dagangannya di ambil paksa begitu saja oleh aparat. Dan kemarahan seorang bapak yang melawan sekuat tenaga melihat gerobaknya di ambil aparat untuk di bawa.

Mau puasa …. mau lebaran …

Trus mereka tinggal dimana ?

Gimana nanti waktu puasa ?

Lebaran dimana mereka nanti ?

Huuuuuuh !!

Aku ga ngerti kebijakan yang diambil oleh mereka para pengambil keputusan. Aku ga ngerti pertimbangan – pertimbangan apa yang mereka ambil untuk kemudian memutuskan melakukan penggusuran. Tapi satu yang jadi perhatianku, kenapa menjelang puasa, atau menjelang lebaran, jumlah tindakan penggusuran malah meningkat.

Hhhhhh …. !!!

Menjelang puasa, mereka butuh tempat tinggal apalagi menjelang lebaran. Jadi aku bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk di dalam hati mereka. Pedagang kaki lima pun sedang menyiapkan diri menjelang bulan ramadhan, berharap ada rejeki lebih untuk memberi kebahagiaan, walaupun sederhana, untuk keluarganya. Tapi apa yang terjadi ? Mimpi mereka buyar dengan penggusuran yang terjadi. Harapan berlebaran di rumah bersama sanak saudara dan kerabat kini tak mungkin lagi, harapan untuk membelikan baju baru saat lebaran tiba, atau bahkan untuk membeli sekedar makanan sederhana saat berbuka puasa, pupus sudah.

Menurutku kebijakan yang mengambang membuat semuanya menjadi tidak pasti. Dan itu seringkali terjadi di sini, di Indonesia. Tidak ada ketegasan dalam mengeluarkan kebijakan. Kalau memang lahan tersebut milik pemerintah dan tidak boleh di bangun apapun diatasnya, seharusnya ada ketegasan dalam penegakan peraturannya. Jadi tidak ada yang di korbankan nantinya. Kalau kejadiannya seperti sekarang, dan itu rasanya berlaku dimana – mana di sini. Tanah kosong yang tidak terpakai di biarkan saja kosong, bila tiba – tiba ada bangunan liar sedang di bangun, pihak pemerintah ataupun pemilik tidak berusaha menghentikan pembangunan tersebut malah membiarkannya bermunculan bangunan – bangunan baru lainya di lahan yang sama.

Begitu juga dengan para Pedagang Kaki Lima yang beroperasi di tempat – tempat yang tidak semestinya. Dari awal mereka di biarkan saja berdagang di situ. Tidak ada larangan apapun. Hingga mereka anggap hal itu sah – sah saja. Apalagi ada pihak – pihak yang mengambil keuntungan dengan memungut uang keamanan disitu.

Katakanlah kesalahan ada pada mereka, yang sudah di peringati tapi tidak juga bergeming dari tempat itu. Tapi itu semua karena dari awal ketidak tegasan menjadi milik pemerintah daerahnya. Kalau memang tidak boleh di bangun, di huni, sesegera mungkin di lakukan pelarangan dengan tegas. Bukan ketika bangunan sudah berdiri baru dilarang.

Aku ga tega liat ibu – ibu yang menangis histeris liat dagangannya di buangin !

Gerobaknya di angkut gitu aja !

Kenapa harus menjelang ramadhan ?

Kenapa harus begitu caranya ?

Kenapa ga pake hati ?

Kalo memang mereka harus pindah kenapa ga di sediain tempat strategis yang bisa di jadikan tempat jualan lain. Yang sama ramenya, bukan di pindahin ke tempat sepi, terpencil, yang bikin orang males untuk dateng kesana. Itu namanya membunuh mereka pelan – pelan.

KAPITALIS ! itu kata temen – temenku … Sistem yang di usung di negeri ini. Yang membuat kesenjangan antara miskin dan kaya semakin menganga lebar !

Menurutku diluar itu semua …

Ada satu yang lebih vital untuk di tengok !

HATI NURANI !

Mari bicara dengan hati ! Mari berbuat dengan hati ! Insya ALLAH sisi kemanusiaan kita akan bicara ! Bila tidak, kita tidak ada bedanya dengan serigala, yang mau memangsa sesamanya. Kembalikan semuanya ke hati, bayangkan kalau yang mengalami hal itu adalah keluarga kita sendiri, bagaimana rasanya ?

Pantas saja negara ini menjadi semakin kacau. Pantas saja kalau kejahatan di negara ini semakin tinggi saja angkanya. Tidak ada yang memperhatikan nasib mereka yang ada di bawah sana.

Sudah waktunya berbuat sesuatu yang lebih nyata. Jangan hanya sekedar menyuarakan !

Mereka tidak bisa menunggu !

Perut mereka lapar, kedinginan dan harus hidup ! Salah – salah cara mempertahankan dirinya keliru hingga merusak diri sendiri dan merugikan orang lain ! Dan akhirnya, lagi – lagi ketidak pedulian kita berkontribusi terhadap semua itu ?

Sekecil apapun sumbangan kita, pasti bermanfaat untuk kehidupan mereka. Jadi jangan menunda niat baik. Ayo segeralah berbuat sesuatu !