… bunda, tolong …

Bunda, Tolong….

Oleh Ineu

sumber: eramuslim.com

“Masya Allah…40, 5 derajat!” rasanya tak percaya ketika kulihat alat pengukur suhu yang barusan kukempitkan di sela-sela ketiak si sulung. Matanya menatapku dengan sorot sayu padahal belum lama berselang mata itu masih berbinar-binar ceria diiringi senyum penuh rasa bangga manakala menunjukkan kepadaku sebuah kreasinya menyusun balok-balok kayu membentuk kereta api.

“Bunda, aku ingin tidur” suara si sulung tiba-tiba mengagetkanku.

“Ya, nak sayang, tidur ya? Bunda kompresin keningmu dengan air ya?” kataku sambil memeras handuk yang telah dicelupkan ke dalam air.

Ia mengangguk lemah. Beberapa detik kemudian handuk kecil itu telah berada di atas keningnya. Ia tersenyum seolah ingin mengucapkan terimakasih. Aku membalas senyumnya dan membisikkan padanya bahwa ia kuat dan akan segera sembuh. Lagi-lagi ia tersenyum dan mengangguk padahal panasnya masih belum turun.

Setelah memastikan bahwa ia bisa kutinggal, aku berniat ke dapur untuk membuat bubur serta sup untuk ia makan. Baru saja kulangkahkan kaki menuju pintu kamar, ia memanggilku.

“Bunda, tolong bacakan Al-Hafithah!”

Sejenak kutertegun dan sejurus kemudian berbalik dan kembali mendekatinya. Si sulung dengan mata terpejam masih terus menyebutkan permintaannya berulang-ulang dengan suara lemah.

“Ya sayang, Bunda akan bacakan.” Kugenggam tangan mungil yang panas itu. Pelan kubacakan surat Al-Fathihah yang masih sering keliru ia sebut menjadi al-Hafithah. Mata yang terpejam itu tiba-tiba mengeluarkan bulir-bulir kristal.

Aku segera bertanya padanya, “ada yang sakit, Nak?” Ia hanya menggeleng lalu berucap lemah tetap dengan mata terpejam.

“Noch mal (ulangi lagi) Bunda!” pintanya.

Kubacakan lagi surat Al-Fatihah dengan penuh penghayatan. Kutatap wajahnya yang berpeluh keringat itu menyunggingkan senyum dan tetap dalam keadaan terpejam. Lalu bulir-bulir kristal dari matanya mengalir lagi. Menyaksikan hal itu, hatiku jadi menggigil dan suaraku bergetar saat membaca surat Al-Qur’an yang diinginkannya itu. Sepenuh perasaan kubacakan berulang-ulang padanya dan bulir-bulir kristal itu tak kuasa kubendung.

“Sekarang tolong Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, Bunda!” pintanya dengan mata tetap terpejam.

Sekalipun kaget, tetap kupenuhi lagi permintaannya itu. Membaca berulang-ulang di antara deraian air mata dan getar suaraku.

“Bunda, tolong sekarang nyanyikan lagu doa untuk ayah bunda!” pintanya lagi. Aku terdiam, menata gemuruh di hatiku.

“Ayo Bunda, tolong!” kali ini ia meminta dengan suara memelas.

Akhirnya aku pun bernyanyi, mendendangkan sebuah lagu yang belakangan ini sangat disukainya. Sebenarnya lagu itu sebuah lirik doa untuk orangtua yang sedikit kugubah ketika ingin mengajari ia dan adiknya menghapal doa-doa. Tak disangka, sejak itu ia selalu menyanyikan lagu tersebut kapan dan di mana saja ia suka.

Dengan mata yang masih terpejam, ia ikut bersenandung pelan, “Ya Allah, ampuni Abang Adik….juga Ayah Bunda Abang Adik. Kasihi mereka…bagai mereka sayang Abang Adik.”

Bibir mungilnya terus bergerak-gerak, melengkungkan sebentuk senyum tiap di akhir lagu. Sementara itu batinku gerimis dan air mata terus mengalir tak tertahankan.

“Bunda, tolong jangan sedih!” pintanya, padahal matanya terpejam. Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sedih padahal saat itu matanya terpejam terus hingga aku merasa leluasa menangis di hadapannya.

“Iya sayang, Bunda tidak sedih. Bunda senang mendengarmu menyanyi.” Ujarku sambil mengusap air mata.

Ya Allah, ia yang baru berusia tiga tahun dapat sedemikian tenang menghadapi sakit yang tiba-tiba datang. Tidak ada keluhan terlontar, yang ada malah keinginan mengingat Engkau Ya Allah, lewat
firman-firmanMu yang kubacakan. Ia juga masih sempat mengingat untuk mendoakan kami sekalipun dalam bentuk lagu. Benar-benar sebuah pelajaran yang teramat berharga bagiku.

———————————-
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Pos-pos Terbaru

  • Fave Category

  • My Journey

    Agustus 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 180,170 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..