Special Kids for special parents

very-special-kids.jpg

Special Kids for Special Parents

Udara dingin mengigit sampai ke tulang. Angin bertiup kencang merontokan sisa daun musim gugur. Halaman Mapleton Rehabilitation Center terlihat mulai ramai dengan kendaraan pasien yang mulai berdatangan. Kami berjuang melawan angin dingin yang menerpa perih pada kulit wajah. Setelah merapatkan kendaraan di parkiran yang telah bersalju, perjuangan berikutnya adalah mendorong kereta bayi menyusuri jalan yang telah basah berlumpur salju yang mencair. Ini memang bukan salah satu dari hari terbaik kami.

Terngiang – ngiang suara Dr. Zerrin di telingaku. “ Anak anda mengalami gangguan yang menurut kamus kedokteran dinamakan disfungsi minimal otak. Tidak heran kalau kini dia terlihat mengalami hambatan. Jangan di harapkan dia akan sama kemampuannya dengan kakaknya. Berbesar hatilah dan terimalah keadaannya, dan jangan kaget kalau nanti dia juga akan mengalami hambatan – hambatan lain seperti disleksia, diskalkulia, disgrafia dan aneka dis, dis lainnya. “ Duniaku seakan runtuh. Anakku yang begitu gagah dan lucu di vonis disfungsi minimal otak. Rasanya ingin berontak. Kenapa terjadi pada keluargaku ? Kenapa pada anakku ? Dan sejuta kenapa lainnya…

 

Itulah sebabnya mengapa kami rutin mengunjungi Mapleton Rehabilitation Center. Menurut Dr. Zerrin ada kurang lebih 10% anak yang di lahirkan bermasalah. Dari mulai masalah disfungsi minimal otak yang sangat ringan sampai pada kasus – kasus berat yang membutuhkan perawatan penuh di institusi khusus untuk anak bermasalah. Masing – masing anak harus mengikuti terapi – terapi secara berkelanjutan. Ada terapi okupasi, terapi fisikal, terapi bicara, terapi sikap, dan aneka macam terapi lainnya.

specialkids.gif

Kami telah sampai di ruang tunggu kamar terapi fisikal. Terapis yang ramah menyambut Adri. “ Ayo, cakep, kita akan bersenang – senang bersama selama satu jam penuh. “ Suara tawa – tawa mereka lambat laun menghilang di balik ruangan terapi. Tinggalah aku masih di liputi kabut duka. Pertanyaan – pertanyaan tetap bergalau di benakku… Kenapa … kenapa … Apa salahku … Kenapa harus anakku ? … Kenapa harus Adri ? … Kenapa ? Ini tidak adil, aku rasanya ingin menjerit dan protes. Tapi kepada siapa ? Dalam kegalauan hati aku tidak menyadari datangnya suara ceria dan gembira di ujung koridor rumah sakit.

Sepasang suami istri sedang mendorong anaknya, dua orang. Bukan… bukan dua orang, ada satu orang lagi yang di gendong diatas bahunya. Tiga semuanya. Si Ibu berkata dengan ceria, “ Carren manis, asyik sekali sekarang kamu bisa main dengan terapis Maria selama satu jam penuh, berlatih terapi fisikal, berayun, bermain bola, menaiki perosotan…” Anaknya terduduk di stroller, tapi subhanallah, kaki dan tangannya terpelintir sedemikian rupa, sehingga dia tidak bisa berjalan. Dari mulutnya tak henti – hentinya meneteskan air liur. Satu – satunya tanda yang mengisyaratkan pemahaman akan kata ibunya, hanyalah terlihat dari matanya. Mata itu berbinar dan memandang ibunya penuh kasih.

Carren di gendong ayahnya dan di serahkan pada terapis Maria yang sudah siap dengan pelukan dan rangkulan hangat. “ Aduh, manisku, apa kabarmu hari ini ? Sudah siap ? Kita kan mau berpetualang bersama di ruang terapi…” Kemudian ternyata ada dua orang terapis lagi yang datang menyambut keluarga tersebut. Aku terpana, kalau hanya satu yang bermasalah, masih masuk akal. Tapi tiga … ?

Kedua orang tua itu dengan ceria melepas anak – anak mereka ke tangan suster dan terapis. Kemudian mereka berpegangan tangan dan mengobrol hangat berdua. Ketika menyadari adanya orang lain, mereka menegurku dengan sapaan ramah, “ Hai, baru ya disini ? Perjuangan ya tadi kita ke sini, untung saja badai salju tak jadi datang.”

Aku merasa tak enak hati untuk bertanya, karena terkesan seperti ingin ikut campur urusan orang lain, tapi karena penasaran, aku penasaran, aku bertanya pada pasangan yang terlihat bahagia itu, “ Yang itu tadi siapa ? Anak ?” Ibunya menjawab dengan senyuman, “ Oh ya, yang tadi, yang tertua Carren 4 tahun. Yang nomer 2 Sue, 2 tahun. Dan yang terkecil Andrew baru 8 bulan. Mereka semua sedang terapi sekarang. Kasus mereka, Cerebal Palsy. “

freedom_program.jpg

Masya Allah. Cerebal Palsy adalah gangguan syaraf permanen yang mengakibatkan anak terganggu fungsi motorik kasar, motorik halus, juga kemampuan bicara dan aneka gangguan lainnya. Bahkan ada penderita gangguan cerebal palsy yang di vonis mengalami fase vegetative selama hidupnya. Tak bisa bergerak, dan membnutuhkan bantuan selama hidupnya. Kelihatannya Carren pada saat itu adalah penderita cerebal palsy jenis ini.

Ibu itu kembali bercerita ramah, “ Sue baru saja pandai berjalan. Luar biasa lho, melihat dia menapakan kakinya pertama kali. Apalagi kalau melihat binar matanya yang begitu bangga dengan kemampuan barunya, wah kami bahagia sekali. “ Suami istri itu saling menambahkan cerita prestasi anaknya dengan wajah sumringah. Aku menyimpan keherananku di dalam hati, usia Sue sudah 2 tahun dan baru mulai pandai berjalan, sangat terlambat, namun mereka terlihat sangat bangga.

Aku sudah tak tahan lagi. Kalau tidak di ungkapkan, ini akan menjadi ganjalan selamanya. Aku menguatkan hati dan melontarkan pertanyaan yang sudah sedari tadi di tahan di tenggorokan. Maaf, “ How could you be so happy ? Anakku yang nomer dua di vonis disfungsi minimal otak, dan rasanya duniaku sudah runtuh.. Bahkan di dalam hati, kami sering menduga – duga salah siapa ini ? Mengapa bisa begini. Aku tak bisa membayangkan, dengan satu kasus saja, duniaku sudah terasa hampa dan tiap helaan nafas terasa berat di dada. Tapi anda ? Bukan satu, malah tiga, dan semuanya cerebal palsy ? Bila aku adalah anda, niscaya aku sudah uring – uringan dan kehilangan akal. “

Hah, aku benar – benar tak percaya akan keberanianku melontarkan pertanyaan itu tanpa tedeng aling – aling. Alangkah tidak sopannya. Berdebar – debar aku menunggu tanggapan pasangan yang penuh dengan kedamaian itu.

Kedua orangtua itu memandangku dengan pandangan yang teduh. “ Aduh, ternyata ada hal yang paling penting yang kamu belum tahu, dan seharusnya tahu.” Ia melanjutkan bicara dengan lambat dan penuh perasaan, “ Do you know that special kids are given to special parents ?” Ia membaca kebingungan di mataku dan melanjutkan dengan tenang. “ Kami merasa terpilih. Dengan di anugerahi tiga anak special, berarti Tuhan telah memilih kami sebagai special parents yang hanya kami dan bukan orangtua lainnya yang pantas menerima anugerah tiga orang anak special ini. Dan kami yakin pilihan Tuhan tidak pernah sia – sia. “

Subhanallah. Aku memandang seakan tak percaya dengan apa yang baryu kudengar. Alangkah malunya. Aku yang selama ini mengaku seorang makhluk beragama yang cukup taat, sempat mempertanyakan takdir Allah dan menggugat kekuasaan Yang Maha Kuasa karena memberi cobaan yang sebenarnya tidak ada apa – apa nya dibandingkan cobaan yang di terima kedua orang tua yang damai ini. Sementara mereka, tak peduli apapun agama yang dianutnya, telah begitu berbesar hati dan melihat semua ini bukan sebagai cobaan, tapi sebagai anugerah.

whole_cd.jpg

Aku kehilangan kata – kata, tercekat di kerongkongan yang kini terasa panas menahan air mata. Si Ibu menambahkan dengan teduh, “ Saya yakin, kamu pasti juga orang yang terpilih sampai bisa mendapatkan anak special seperti itu. “ Ia menunjuk pada Adri yang tengah bermain di ruang terapinya.

Aku memandang ke ruang terapi itu. Terapis dan Adri sedang bersuka ria berdua. Gelitikan gelitikan dan senyuman mengiringi latihannya diatas bola. Matanya terlihat bersinar – sinar. Aku makin menyadari betapa indahnya mata Adri. Menurutku mata itu adalah mata yang terindah, berbinar – binar penuh semangat juang. Aku mengambil nafas panjang. Heran, beban yang menghimpit tadi, perlahan mulai tak terasa. Special parents for special kids. Why not ? Aku harus buktikan kalau aku juga mampu menjadi special parents.

Perjumpaan kami hanya singkat, Adri telah selesai terapi dan kami kembali harus berjuang untuk menghadapi udara dingin dan salju untuk pulang. Di tengah jalan sambil mendorong kereta terbayang bayang wajah kedua orangtua yang luar biasa itu. Dalam hati aku berharap mudah – mudahan dapat berjumpa kembali. Aku harus berterima kasih pada mereka, karena telah menyadarkan pandangan piciku selama ini. Membukakan wawasan baru bagi diriku. Hati yang selama ini penuh penyesalan, kemarahan, dan gugatan kini seperti mendapat sudut pandang baru yang damai dan indah.

Pertemuan itu tak terduga – duga, malah terjadi beberapa bulan berikutnya di sebuah mall. Di depan JC Penney sepasang orangtua tengah tertawa bersama. Satu anaknya bergelantung di bahu. Dari bibirnya air liurnya menetes yang sesekali di usap penuh sayang oleh ayahnya. Ibunya mendorong kereta untuk anak kembar. Satu berisi Carren yang terbaring tak berdaya dengan matanya yang berbinar, yang satu lagi berisi Andrew yang montok, meski terlihat masih kepayahan menopang tubuhnya untuk duduk. Si Ibu segera mengenali kami berdua, “ Hai, kamu yang ketemu di Mapleton Rehabilitation Center dulu kan ? Bagaimana dengan Adri ? He is such a special kid, don’t you think ? “ kata si Ibu ramah sambil mencubit gemas pipi Adri yang montok. “ Adri is a very special kid. “ Kelihatannya aku sudah tidak perlu lagi mengucapkan terima kasih, karena si Ibu sudah dapat membacanya dari mataku yang berbinar – binar ketika mengangkat Adri yang tertawa – tawa lucu. Kami bersalaman dan kemudian berpisah.

Dari jauh aku masih terpesona dengan ketulusan tawa mereka. Tatapan – tatapan mata kasihan terlihat dari pengunjung mall yang melalui iring – iringan keluarga itu. Kini malah aku yang memandang penuh rasa tidak rela terhadap para pengunjung mall itu. Bisa – bisanya mereka memandang dengan tatapan seperti itu, tidak tahukah mereka, bahwa pasangan istimewa di depan mereka itu adalah pasangan yang sangat terpilih. Terpilih bukan hanya untuk satu anak special, tapi tiga anak special sekaligus yang telah dianugerahkan Tuhan pada mereka.

Subhanallah, Allah telah mengatur perjumpaanku dengan pasangan yang luar biasa itu. Terbayang kembali hidup penuh penyesalan yang dulu kualami. Kini tiap – tiap aku memandangi bayi montoku yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda kecil yang tampan, aku bersyukur , anugerah Allah yang luar biasa telah di berikan melaluinya. Perjalanan kami memang tak mudah, namun kami tertantang untuk memegang amanah anugerah Allah ini dengan sebaik – baiknya. Memang benar, pilihan Allah tak pernah sia – sia…

Dikutip dari Buku :

Bila Nurani Bicara, Kisah Spiritual Penghangat Jiwa.

~ Amelia Naim Indrajaya ~

Iklan

2 Komentar

  1. “(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari orang tuanya, pasangan hidupnya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(Q.S.13:23)..Amanah dari Alloh SWT tuk kedua orang tua..

  2. nice story…tnyata bkn aq sndiri yg merasa spt itu…
    sll btanya knp…aq..knp anak q…dll..
    tp, stlh baca cerita ini…mbuat q jd smangat kmbali mnghadapi smua ni…
    aq dan suami..sll slg mngingatkan…we are special parent..
    thanx…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Maret 2008
    S S R K J S M
    « Feb   Apr »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 181,425 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..