Paku

PaKu

 

nail1.jpg

Suatu ketika ada seorang anak laki – laki yang pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku ? Ya Paku…. !

Sang anak heran. Tapi bibir ayahnya justru tersenyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah. Ajaib !

Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku ! Sungguh jumlah yang menakjubkan. Begitu juga di hari kedua, ketiga dan beberapa hari selanjutnya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan marahnya daripada menancapkan banyak paku di pagar rumahnya.

Akhirnya kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak berhasil mengendalikan marahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang Ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana ia tidak marah.

Hari – hari berlalu dan anak laki – laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ia tancapkan. Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bangkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakang rumah.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang – lubang di pagar ini. Pagar ini tak akan bisa kembali seperti semula, tidak akan bisa sama seperti sebelumnya,” kata sang ayah bijak.

Sang Ayah sengaja memotong kalimatnya pendek – pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran ayahnya itu.

“Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata – katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu bisa saja menusukan pisau, dan mencabutnya kembali. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata – kata sama buruknya dengan luka fisik, “ ucap sang ayah lembut namun sarat makna.

“Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca – kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.

Sahabat, saling mema’afkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi, akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi, berhati – hatilah sahabat. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi. Amiien.

U.I_love

Iklan

1 Komentar

  1. Terima kasih satu lustrasi yang baik. Semoga Tuhan memberkati kita semua


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Januari 2008
    S S R K J S M
    « Des   Feb »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 180,959 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..