Mmmm….

hijab02.jpg

Diam

ORANG bijak berkata: “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan
ditemukan.” Pertanyaannya adalah: “Di mana mencarinya?” Jawabnya: “Di dalam
diam!” Sebab, di dalam diam itu kita bisa berbicara dengan hati. Hati itu
merupakan teleskop dari jiwa, sedangkan mata merupakan teleskop dari hati.

Contoh. Kita sering mempertunjukkan kekerdilan diri karena tidak mau diam.
Mulut nyerocos, tahu-tahu tidak nyambung antara keinginan hati dan paparan mulut.
Berbuih-buih sudah mulut berkoar, akhirnya kebohongannya terkuak dan sulit
ditambal.

Padahal, asal tahu saja, diam adalah perisai orang bodoh dan pelindung bagi
orang bijak. Orang bodoh tak perlu membuktikan kebodohannya bila ia diam,
dan orang bijak tak akan melemparkan mutiara ke depan babi bila ia tahu nilai
diam. Dengan diam –sembari belajar sabar– sebuah soal yang pelik bisa
terpecahkan.

Anda pernah dengar kisah Nasrudin mencari jarum di halaman rumahnya?
Berjam-jam dia mencari jarum yang hilang itu hingga membuat seluruh tetangganya
tergerak. Ramai-ramai mereka ikut sibuk membantu Nasrudin, tapi jarum yang dicari
tidak ditemukan. Seperti lenyap tertelan bumi.

Namun, ada seorang yang diam, yang hanya memperhatikan polah tingkah mereka.
Lama-lama orang ini mendekati Nasrudin dan bertanya: “Anda mencari apa?”
Jarum yang hilang. “Di mana jarum itu terjatuh?” Nasrudin menjawab: “Di dalam
rumah. ” Lho, kok, dicari di halaman rumah? “Ya, di dalam rumah gelap, tapi di
halaman ini terang.”

Logika Nasrudin memang sering terbolak-balik. Namun, dari cerita ini bisa
ditarik garis apa saja. Misalnya, bahwa sebenarnya kehidupan itu intinya ada
dihati. Jika “hati itu gelap”, sulit menemukan kebenaran. Jadi, butuh “cahaya”
Ilahi. Sebenarnya pula, tiada sesuatu kehidupan yang tanpa makna. Hanya
karena tak memahaminya, maka kita berada dalam kegelapan.
Sebenarnya, setiap gerak, isyarat, bentuk, suara, perkataan, ekspresi,
suasana, semuanya menjadi ekspresi sifat dan karakter seseorang. Tanpa harus
berbicara, mata seseorang sudah bisa terlihat, adakah dia ridha atau tidak, mau atau
enggan, menolak atau menyetujui, cinta atau benci, bohong atau jujur.
Bahkan, kearifan dan kebodohan semua menjelma melalui mata.

Melalui mata pula akan ketahuan bahwa persahabatan itu sebatas kepentingan
profesional, penuh pamrih atau setengah tulus. Tak bisa dimungkiri bahwa
tiada hidup yang tanpa pamrih, baik kepada orangtua, anak, istri, mertua, maupun
tetangga. Yang membedakan cuma kadar kepamrihannya.
Kita sering tak peduli pada tawa dan tangis orang lain. Banyak orang kaya
dan punya kedudukan, tapi acap dipenuhi kekecewaan. Ia sering sedih tanpa tahu
penyebabnya. Ia merindukan kebahagiaan. Pepatah Hindu mengatakan: “Makin
kita mengejar kebahagiaan, makin tak bahagia keadaan yang kita temukan.”

Itu karena kita kurang merenung, dan “diam”. Hati kita tak lagi peka
mendengar “suara” orang lain. Bila kita tak mampu memahami masalah sendiri dengan
dalam, bagaimana bisa memahami orang lain? Maka, yang muncul kemudian adalah
menyalahkan, menyikut, mempermalukan, membodohi, dan menipu orang lain. Kita
jadi licik. Ini sebuah soal yang terasa makin jamak di negeri ini.
“Oleh karena itu, yang penting bagimu, kerjakanlah apa-apa yang baik bagimu
danbukan yang baik menurut mereka, sembari kau serahkan jiwa ragamu kepada
Tuhan, ” tulis Jatiswara Kawedar. Dan, Anda pernah mendengar bahwa, “Manusia itu
sesungguhnya adalah gurunya sendiri; di dalam dirinya sendiri terdapat
rahasia keberadaannya. ”

Maka sekali-sekali diam dan merenunglah

Iklan

1 Komentar

  1. Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)(Hadits ke-15 dalam Syarah Arba’in An Nawawi)

    Afwan atas lisan ini yang banyak khilaf…Afwan ukhti


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Desember 2007
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 181,654 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..