Istri … Oh … Istri

pray.jpg

Cinta seorang istri

Zayyinah adalah istri seorang ustadz kecil di sebuah dusun, sehari-hari dia sibuk membantu suaminya di toko buku kecil yang diberi nama toko buku muslimah. Toko itu menyediakan berbagai macam alat tulis dan buku-buku bacaan islam.

Zayyinah sudah berumur 32 tahun, sementara suaminya sudah berumur 45 tahun, mereka berdua sudah menikah selama 12 tahun lamanya, dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan, meskipun berpenghasilan dari sebuah toko buku kecil, zayyinah dan suaminya tidak putus asa dalam men-sekolahkan ke dua putranya.

Mereka mendapatkan kurang lebih 500rb setiap bulan, dari penjualan buku tersebut, penghasilan tersebut jika digunakan untuk membayar spp kedua anaknya dan belanja dapur jalaslah tidak mencukupi, oleh karenanya zayyinah mencari pekerjaan sampingan yaitu menjahit pakaian, dari menjahit itulah dia mendapatkan beberapa puluh uang sebagai tambahan biaya hidup sehari-hari, sementara suaminya juga mempunyai pekerjaan semping lain yaitu berternak ikan lele. Selain itu setiap malam suaminya mengajar di musholla dekat rumahnya.

Hari demi hari mereka arungi bersama penuh dengan kebahagiaan, meskipun berpenghasilan sedikit mereka selalu tetap bersyukur atas rizki pemberiaan tuhan , mereka tidak pernah mengeluh atas apa yang dialaminya. Kesenangan dan kebahgaiaan itu tidak hanya datang karena sikap qonaah yang mereka berdua punyai tetapi juga datang ketika melihat putra dan putrinya saling rukun tidak pernah bertengkar, bahkan selalu mengalah satu sama lain.

Namun suatu hari kebahagiaan itu mendapatkan ujian, suaminya tiba-tiba jatuh sakit, badanya panas dan tubuhnya kelihatan lemah. Zayyinah sangat bingung dengan keadaan suaminya tersebut, kemudian dia dan anaknya pergi ke tetangga rumah yang mempunyai mobil untuk meminta agar bersedia membantu membawakan suaminya periksa ke rumah sakit terdekat. Untung tetangganya tersebut mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga zayyinah, sehingga bersedia membantu zayyinah untuk memeriksakan keadaan suaminya.

Akhirnya zayyinah bersama kedua putranya pergi membawa suaminya ke rumah sakit dengan bantuan tetangganya tersebut, mereka menuju rumah sakit Patrang. Waktu itu rumah sakit tampak agak sepi karena sudah menjelang magrib, beberapa suster terlihat lalu lalang di rumah sakit itu, kemudian zayyinah memanggil salah satunya.

Dia berkata ke suster tersebut dengan napas tersenggal-senggal” suster tolong suami saya suster”..
“ada apa bu” jawab suster tersebut.
“tolong suami saya , dia sedang sakit, tolong panggilkan dokter suster”..suara zayyinah semakin dalam ketika menjawab suster itu, matanya terlihat bermega, merah dan wajahnya panik.
Suster itu lantas memanggil suster-suster yang lain untuk membantu mengangkat suami zayynah ke tandu dorong untuk kemudian di bawa ke kamar pemeriksaan.
Kedua anak zayyinah terlihat mengikuti ayahnya dari samping-samping tandu dorong itu, sementara zayyinah terlihat semakin bingung, badanya sudah tak diurusnya, pikiranya hanya pada suaminya.

Setengah jam kemudian dokter datang, dia kelihatan bersih dengan pakaian putih dan stetoskop menggantung di lehernya. Dokter itu terlihat tenang memeriksa suami zayyinah, ketika pemeriksaan di lakukan zayyinah di suruh keluar menunggu di depan kamar periksa. Zayyinah duduk bersama anak-ankanya di bangku depan kamar periksa itu, jantungnya tidak pernah berhenti berdegup kencang bagai orang lari marathon, pandanganya kosong dengan tangan mengadah ke atas berdoa kepada tuhan untuk kesembuhan suaminya. Sementara anak-anaknya hanya bisa diam dengan kesedihanya.

Tak lama kemudian sang dokter pun selesai memeriksa suami zayyinah, dokter itu kemudian keluar dan menyuruh zayyinah datang kekantornya, wajah dokter itu terlihat suram tak memancarkan adanya berita baik, zayyinah kemudian datang ke kantor dokter itu tanpa di sertai anak-anaknya, zayyinah duduk di kursi kantor dokter tersebut, kemudian dokter itu bertanya kepadanya. “ bu, sejak kapan bapak sakit”,? Tanya dokter itu dengan nada pelan.
“setahu saya suami saya belum pernah sakit sampai seperti itu dok”. Jawab zayyinah.
“tetapi pernah sakit kan”? tegas dokter ke pada zayyinah.
“iya dok” jawabnya” memang suami saya sakit apa dok” zayyinah berbalik bertanya kepada dokter itu.
“suami ibu sakit ginjal, ginjalnya tidak berfungsi lagi”..jawab si dokter dengan suara tenang.
Mendengar itu mata zayyinah semakin memerah, mukanya terlihat putih pasi, dia pelan-pelan dia bertanya ke dokter itu” apakah bisa disembuhkan dokter?”
“bisa, tapi dengan operasi, ganti ginjal”, jawab dokter itu.
Zayyinah terlihat lemas mendengar jawaban dokter itu, di tidak meneruskan pertanyaan mengenai penyembuhan itu karena dia sadar bahwa dia tidak akan mampu membayar biaya operasi itu.

Kemudian zayyinah keluar dari kantor tersbut dengan tanpa senyum di bibirnya, dan dengan mendung kesedihan menyelimuti wajahnya, dia menghampiri suaminya yang sedang bercengkrama dengan anak-anaknya. Sesampainya dikamar dia menyuruh anak-anaknya keluar sebentar, karena ingin bicara berdua dengan suaminya.

Setelah menceritakan perihal yang di perolehnya dari dokter tadi suami zayyinah ahirnya menyruh istrinya untuk membawanya pulang kerumah, dia tidak ingin di operasi, dia tidak ingin memberatkan zayyinah dan anak-anaknya yang masih ingin sekolah. Semua derita yang di tubuhnya di abaikan. Sore itu juga zayyinah dan anak-anaknya membawa suaminya pulang ke rumah.

Hari demi hari dilaluinya dengan suami berbaring dikamar, sementara dia selalu pergi ketoko bukunya untuk mencari nafkah sebagai biaya anak sekolah dan membeli obat untuk suaminya. Peternakan suaminya sudah tak teruurus, anak-anaknya yang masih kecil tidak mampu meneruskan pekerjaan ayahnya itu. Musholla yang biasanya di ramaikan suara anak-anak kecil mengaji sekarang semakin sepi.

Zayyinah tampak semakin kurus karena kesibukanya dan istirahatnya yang sangat kurang, tiap malam dia tidur di samping suaminya, sebelum tidur dia selalu memasang beker pada jam tiga pagi.

Di kesenyapan malam beker itu berbunyi sehingga membuat zayyinah terbangun dan dengan buru-buru zayyinah segera mematikanya agar tidak mengganggu suaminya dan anak-anaknya yang tidur, setelah itu dia pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudlu. Air yang begitu dingin dan menusuk tulang-tulang zayinah tidak dihiraukan, dia tetap berwudlu.

Dengan khusyuk zayyinah bersembahyang di sebelah suaminya, bermuqena putih bersih menghadapkan tubuhnya ke arah kiblat,6 rakaat telah di selesaikanya, dengan duduk bersimpuh dan tangan menengadah ke atas dia berdoa untuk suaminya:
“ya allah, tuhan saya yang maha pengasih, izinkanlah hambamu yang miskin ini memohon kepadamu, ya allah engkau telah memberikan segalanya kepada hambamu ini, hanya syukur yang bisa aku sembahkan untukmu, ya allah hambamu ini tidak mampu apa-apa tanpamu, ya allah berikanlah suami hamba kesembuhan dari sakitnya, ya allah andaikan engkau mengahendaki dia untuk pulang, sertakan aku bersamanya”.. titik-titik air mengucur ke pipi zayyinah bersamaan dengan doanya, rintihan-rintihan doanya membuat suaminya terbangun dari tidurnya, tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengusap air mata istrinya itu, hatinya pun tak kuasa membiarkan istrinya itu, air kesedihan pun mengucur dengan sendirinya dari matanya.

Di dalam sepi malam itu zayyinah dipanggil suaminya, diapun berhenti berzikir dan menghampiri suaminya, dengan wajah yang sembab dan mata yang masih merah dia duduk disamping suaminya yang tercinta.

“ada apa mas? Apa ada yang sakit”..tanya zayyinah kepada suaminya dengan senyuman.
“tidak istriku”jawabnya” mendekatlah aku ingin berbicara sesuatu yang penting”.
Zayyinah pun mendekatkan diri lebih dekat lagi. Ketika zayyinah dekat suaminya menarik wajahnya dan mengecup bibir dan kening istrinya itu, zayyinah tak kuasa menahan air matanya, kucuran air mata kebahgiaan dan kesedihan membasahi mukanya dan menetes ke suaminya.

Kemudian dengan suara pelan suaminya berbisik kepadanya,” istriku sudah bertahun-tahun engkau menemaniku, menerima semua seadanya, sabar dan tidak pernah menuntut apapun, engaku juga telah memberikan dua putra untukku, suamimu ini tak akan pernah bisa membalas kebaikanmu ini istriku”.

Air mata zayyinah semakin deras mengalir di wajahnya, senggukan suaranya semakin menjadi-jadi, sekali-kali dia mengusapnya dengan ujung sprei kasur suaminya. “mas,…kebahagiaan yang telah mas beri juga tak mampu adek balas, mas selalu membahagiakan saya, selalu bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga”..

Senyuman bahagia dan air mata kebahagiaan pun mengalir di muka suaminya, namun dia merasa bahwa dirinya sudah tak mungkin bertahan lama dengan penyakitnya, akhirnya dengan air mata yang masih mengalir dia berkata ke istrinya:” istriku, rasanya mas tidak akan sanggup menahan sakit ini lagi”. Mendengar itu zayyinah berusaha menutup mulut suaminya itu dengan tangan dan mengecup pipi suaminya, namun suaminya tetap meneruskan ucapanya:’’ istriku, jika nanti aku telah pulang ke hadapan tuhan, engkau menikahlah lagi, agar engkau tidak kesusahan dalam mengurus anak dan menyekolahkanya, jadikan mereka orang yang berguna di kemudian hari nanti”.

Seketika itu zayyinah mendekap erat tubuh suaminya, seakan-akan tidak mungkin bisa terlepas, berkali-kali cimuanya menghujam wajah dan bibir suaminya, matanya sudah banjir dengan air-air kesediahanya, dia pun berkata pada suaminya:” mas, aku akan berusaha terus menyekolah kan anak-anak kita sampai setinggi mungkin, aku akan terus berusaha mas, tapi aku tak bisa memenuhi permintaanmu yang satu itu, aku tidak akan menikah lagi, aku ingin jika mati nanti di ahkhirat bisa berkumpul dengan mas lagi, menjadi bidadari istri mas, bukan istri orang lain, aku tidak ingin berpisah dengan mas, jika saja saya bisa mempercepat mati ma….….”uacapnya terhenti karena tangan suaminya menutup mulut mungilnya. Dan suaminya berkata:” jangan kau teruskan istriku, mengharap mati itu tidak baik, engkau memang istri yang solehah, semoga kita bisa berkumpul lagi di ahirat nanti”. Percakapan itu ahirnya berhenti, dan keduanya berpelukan mesra sampai mereka dibangunkan oleh ayam-ayam jantan yang
bernyanyi-nyanyi menyambut subuh.


Iklan

3 Komentar

  1. kisah yang sarat akan nilai keimanan dan ketaqwaan pd ALLAH SWT.alhamdulillah,sangat bermanfaat bagi saya tuk mengarungi kehidupan dlm rumah tangga kelak.
    semoga juga menjadi referensi bagi suami istri tuk mengarungi bahtera rumah tangga dan semoga menjadi sakinah,mawahdah,warohmah,amin.

  2. Subhanallah……

    Moga istriku, ukhtiQ, n akhwat2ku termasuk golongan Mar’ah Sholihah…..

    Amiim.. Allahumma amiin…

    Jazakillah ahsanal jaza’ buat ukhtiQ….

  3. Askum,..
    Kisah yang sangat menyentuh hati..
    Baik untuk saya yg sedang meningkatkan iman..
    Semoga smua muslimah bisa menjadi sperti teh zayyinah. Amien..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Desember 2007
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 181,425 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..