Kang Wahid…

muslim-building-sunset.jpg

Hamba ALLAH di Totogan Masjid

Husnul Rizka Mubarikah

Beberapa diantara kita laksana tinta,

Dan beberapa lagi seperti kertas

Jika bukan karena hitamnya, sebagian kita menjadi bisu

Jika bukan karena putihnya, sebagian kita menjadi buta

(Gibran)

Mudah – mudahan apa yang akan saya sampaikan berikut, memberikan manfaat. Tadinya saya tidak berniat menuliskan sosok bersahaja ini. Insya ALLAH saya bukan sedang mengkultuskan seseorang, saya hanya ingin membagi pesonanya dengan anda sekalian. Sebut saja ‘Kang Wahid’.

Ibu saya harus ke rumah sakit minggu kemarin. Demam tinggi dan dehidrasi menyebabkannya kekurangan cairan. Akhirnya orang rumah berinisiatif menginapkan ibunda di sebuah kamar rumah sakit. Untuk membawa ibu ke rumah sakit, saya mendatangi ‘Kang Wahid’, meminjam mobilnya. “Jam 8 yah.” pinta saya, menyebutkan waktu mengantar ibu.

Terakhir berakrab – akrab dengan beliau, ketika kami belajar ngaji. sudah lama sekali, mungkin hampir 7 tahun yang lalu. Dia menjelma menjadi guru ngaji yang sama sekali jauh dari atribut ustadz seperti yang sekarang ini saya lihat. Dia tidak berbaju koko, jeans belel di padu dengan kemeja kotak – kotak menjadi kostum kebanggannya. Kami tidak pernah mendapatinya memakai peci, dia sendiri bilang “Lucu kali yah, rambut gondrong memakai peci. “Selalu bersandal jepit, dan yang pasti dia baru saja lulus SMU, bukan jebolan pesantren. Yang membuat banyak orang terpesona mungkin karena dia tidak pernah absen berjamaah di masjid setiap waktunya.


Suatu malam, kang Wahid datang menemui Ayah. ” Nak, kang Wahid ngajak ngaji bareng tuh. Tempatnya di rumah pak Lurah, selepas maghrib. Awas kalo nggak ikut !” itu yang di ucapkan ayah setelah kang Wahid pergi. Nampaknya orang tua yang memiliki anak perempuan seusia saya saat itu di datangi kang Wahid satu persatu. Dan mungkin karena diplomasinya bagus, para ayah mengharuskan kami menghabiskan maghrib di rumah pak Lurah. Mengaji.


Jadilah kami mengaji. Jangan berharap bisa absen, karena sebelumnya kami disatroni satu persatu. Dari luar pagar rumah, suara khasnya menggema setiap bubaran shalat maghrib. “Ngaji, dek !” . ” Kasihan, sudah capek – capek keliling masa kamu tidak datang !” itu yang ibu saya katakan setiap kali saya ingin absen ngaji, karena ada ulangan di sekolah.


Mengajinya sederhana, baca Al Qur’an setiap orang 5 ayat, selanjutnya mendengarkan terjemahannya. Setelah selesai dia akan membacakan tentang banyak hal yang di dapatinya dari sebuah buku. Kalau tidak salah buku panduan menjadi muslim yang baik. Begitu saja. Yang tidak sederhana mungkin kelakuan kami padanya. Kami seringkali membuatnya menautkan alis. Membuatnya pulang tanpa sandal seringkali terjadi. Menaburkan garam di air putih yang disediakan tiap mengaji, bukan hal yang baru. Membuatnya terkejut, karena tiba – tiba kami berada di belakang pintu dan berteriak ” Daaarrr “. Sampai mencandainya terang – terangan ” Aduh kang Wahid, ganteng deh malam ini !!”. Yang terakhir, efeknya ternyata tidak bagus, ngajinya seringkali jadi berantakan. Karena setiap kali dia terlihat salah tingkah, kami semakin bertanduk dan memujinya lagi.


Kang Wahid di kenal soleh, oleh orang – orang kampung, tua muda, bahkan anak – anak. Ayah saya pernah bilang, “Kalau saja pemuda yang tertaut hatinya pada masjid seperti kang Wahid lebih dari satu, ulama di desa kita nggak harus khawatir kehilangan penerus.” Saat itu ayah menambahkan, “Tadi subuh, ayahngobrol dengannya. Dia baru di vonis hidup enam bulan lagi oleh dokter. Jantungnya semakin akut.”


Kabar vonis menyebar ke seantero kampung. Banyak yang berempati, termasuk kami yang mengaji. Kami semua tahu usianya masih muda. Tapi anehnya beliau tenang – tenang saja. Saat kami menanyakan ” Kang gimana perasaannya sekarang ?” sebuah jawaban yang terlontar sama sekali tidak kami perkirakan ” Ah biasa saja, maut itu di tangan ALLAH, ghaib. Bisa jadi kalian duluan !” Suatu waktu dia bercerita telah bertengkar dengan dua orang pada hari yang sama, pertama ibunya dan yang kedua paranormal. Ibunya mengajak ke paranormal yang bisa menghilangkan semua penyakit, setelah bertengkar hebat, akhirnya kang Wahid mau menemui si Paranormal. Nah saat si ‘mbah’ membaca mantera, biasanya pasiennya langsung rubuh, tapi kang Wahid tidak, kang Wahid malah berdakwah di depan si “mbah” yang sedang beraksi. Buntut – buntutnya karena nggak mau rubuh juga, kepala kang Wahid dibenturkan si ‘mbah’ ke tembok, kali ini kang Wahid memang rubuh. Pas pamitan mau pergi, si Mbah marah – marah sama ibunya, gara – gara kang Wahid beberapa ilmunya terlepas.

Enam bulan berlalu, dan kami masih dapat menjumpai kang Wahid di rumah pak Lurah. Kematian memang bukan urusan manusia. Kampung kami masih dapat mendengar suara adzannya, kami tidak kehilangan sosok yang mengurusi madrasah, Kang Wahid masih saja membina para pemuda sehabis isya’. Bukan itu saja, selanjutnya kang Wahid membuka pengajian ibu – ibu setiap hari Kamis.

Beberapa waktu selanjutnya, surat kaleng beredar pada kami yang mengaji. Surat yang di kirimkan lewat pos, pengirimnya “Hamba ALLAH di Totogan Masjid.” Saat itu kami sepakat, mengarahkan telunjuk pada satu orang tersangka, siapa lagi kalau bukan kang Wahid. Kami memboikot untuk tidak mengaji. Tapi karena bukti yang kami punya sama sekali tidak ada, maka acara pemboikotan tidak berlangsung lama. Saat mengaji lagi, kang Wahid berkata. ” adik saya mendapat surat kaleng, apa kalian juga ?” Pertanyaan tadi membuat kami melepaskan semua praduga.

Saya masih mengingat suratnya beberapa kalimat, kalimat yang membekas karena begitu pedas.

Surat ini saya tujukan bukan untuk tukang bakso atau tukang sayur, tapi hanya untuk saudariku Muslimah yang di cintai ALLAH dan mempunyai akal yang pintar.

Saudariku, kenapa kau kenakan jilbab hanya di sekolah saja, sedangkan setelah pulang ke rumah kau tanggalkan begitu mudah. Apa kau bangga di tatap tukang sayur, apa kau gembira auratmu di lihat tukang bakso ?”

Mujarab juga suratnya, meski hanya untuk beberapa lama. Kami berjilbab ke luar rumah dan selanjutnya bongkar pasang lagi. Dari anak pak Lurah yang sama – sama mengaji, ternyata bukan hanya kami, pak Lurah juga mendapatkan surat kaleng, isinya kritik tajam, tentang hiburan dangdutan yang di selenggarakan pak Lurah karena terpilih lagi menjadi lurah. Konon Pak Lurah sampai banyak melamun dan tidak bisa tidur, investigasi pun dilakukan.

***

“Kampung kita mengenaskan sekarang.” kata kang Wahid tadi sore setelah membesuk ibu. ” Surat kaleng sudah tidak ampuh lagi.” tambahnya. Sekonyong – konyong memori saya berlari, pada saat saya bersama teman – teman berembuk mencari tersangka pengirim surat kaleng berlabel “Hamba ALLAH di Totogan Masjid.” Ingin sekali saya bersorak, karena saya sudah tau siapakah dia. Hanya saya malu, karena saat itu ada seseorang yang baru saja menyandang status “Istri Kang Wahid”. ” Kang lain kali, pengirimnya jangan Hamba ALLAH di totogan masjid, tulis saja dari Presiden Republik Indonesia, biar cespleng.” saya mengucapkan sambil menahan senyum. “Eh, jangan bilang – bilang neng….” seru kang Wahid seperti kena setrum. Saking gembiranya saya sampai menuangkannya ke dalam tulisan ini.

“Sampai sekarang, jantungnya masih saja lemah.”

 

 

Iklan

2 Komentar

  1. ceritanya asik.true story……………
    menbuat saya berangan2 wajah kang wahid………………

  2. Pasti tampan ….
    Setampan akhlaknya. Pasti seneng ya punya suami seperti kang Wahid !


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • My Archives

  • Categories …

  • Tulisan Terakhir

  • Fave Category

  • My Journey

    Juli 2007
    S S R K J S M
        Agu »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Rindu ini … UntukMu …

    " Ya ALLAH, perbaikilah agamaku yang merupakan pegangan utama bagiku. dan perbaikilah duniaku yang merupakan bekal hidupku... perbaiki juga akhirat tempat kembaliku nanti, Jadikanlah hidup yang ku lalui sebagai tambahan kebaikan yang dapat kuraih, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala kejahatan dan keburukan diriku Amiiin
  • Blog Stats

    • 181,654 hits
  • Hadiah Terindah ….

    Allah memberikan Hadiah yg sangat indah untuk kita itu dalam kemasan yg rumit.. dari situ Allah menguji kesabaran dan melihat bagaimana cara kita membuka hadiah terindah yg terbungkus oleh kemasan yg rumit itu.. sampai kita berhasil dan hingga akhirnya kita berteriak kegirangan krn berhasil mendapatkan hadiah yg indah tiada taranya itu..